Tuesday, May 24, 2011

7 Minuman Keras Asli Indonesia

Cap Tikus & Sagoer

Cap Tikus merupakan minuman keras dari Manado hasil penyulingan Sagoer. Sagoer sendiri adalah cairan yang disadap dari pohon enau dan mengandung sedikit kadar alkohol sekitar 5%. Setelah disuling dengan cara tradisional, minuman khas Minahasa ini menjadi pendorong kerja untuk kalangan petani. Namun saat ini Cap Tikus lebih menjadi sarana pelampiasan dan mabuk-mabukan. Begitu berbahayanya minuman ini hingga orang-orang tua mengingatkan agar bisa menahan atau mengontrol minum minuman Cap Tikus. Sejak dulu pula dikenal pameo menyangkut Cap Tikus, minum satu seloki Cap Tikus, cukup untuk menambah darah, dua seloki bisa masuk penjara, dan minum tiga seloki bakal ke neraka.

Tuak

Tuak merupakan minuman keras khas Indonesia hasil fermentasi dari bermacam buah. Bahan-bahan tuak biasanya beras atau cairan yang diambil dari tanaman seperti nira kelapa atau aren, legen dari pohon siwalan atau tal, atau sumber lain. Di daerah Batak tuak dibuat dari pohon aren yang mirip pohon kelapa maka sering disebut bir panjat. Bar-bar tradisional yang menyediakan tuak disebut lapo tuak. Sebenarnya tuak tersebar di begitu banyak daerah di Indonesia sehingga sering disebut dengan nama-nama lain, namun tuak di sini mengacu pada minuman hasil fermentasi dari buah yang manis. Sama seperti temannya dari Manado tuak juga sangat memabukkan dengan kadar alkohol yang lebih ringan. Di salah satu lapo tuak tertulis Segelas tuak penambah darah. 2 gelas, lancar bicara. 3 gelas, mulai tertawa-tawa. 4 gelas, mencari gara-gara. 5 gelas, hati membara. 6 gelas, membuat perkara. 7 gelas, semakin menggila. 8 gelas, membuat sengsara. 9 gelas, masuk penjara dan 10 gelas, masuk neraka.

Arak Bali


Mirip dengan tuak, arak bali merupakan minuman keras hasil fermentasi dari sari kelapa dan buah-buahan lain. Kadar alkoholnya 37-50%. Arak ini dari namanya saja sudah jelas berasal dari Bali dan sering digunakan dalam upacara-upacara adat. Dalam upacara menghormati para dewata arak akan dituangkan ke daun pisang yang sudah dibentuk seperti tangkup dan kemudian arak akan dicpiratkan tangan kanan dengan bantuan sebuah bunga. Arak-arak untuk upacara biasanya mutu terendah karena arak terbaik akan diminum. Arak ini cukup populer juga di kalangan wisatawan di Bali dan salah satu resep cocktail yang terkenal adalah “arak attack” yaitu campuran Arak Bali dan orange juice. Meskipun banyak turis mancanegara tidak akan terkesan dengan rasa arak dibanding minuman keras dunia lainnya namun keberadaan Arak Bali jelas membantu seorang asing menikmati liburannya dan mempromosikan pulau dewata.

Sopi


Sopi adalah minuman keras asal Maluku yang dilarang di sana namun sudah sangat populer dan mendarah daging. Sopi sendiri merupakan fermentasi dari pohon aren (jadi masih bersaudara dengan minuman keras Indonesia lainnya) dan memiliki kadar alkohol diatas 50%. Pembuatan Sopi yang menghasilkan rasa khasnya adalah penambahan bubuk akar Husor dan penggunaan bambu untuk penyulingan. Para pembuat Sopi tradisional meskipun terlarang sangatlah makmur sampai bisa menyekolahkan anak-anak mereka sampai ke bangku kuliah maka ada sebutan di Maluku sudah ada orang yang menjadi profesor-profesor karena Sopi ini. Ada yang bilang rasa Sopi mirip Vodka.

Lapen


Nah minuman keras asal Yogyakarta ini reputasinya sungguh buruk. Coba saja Anda cari di google mengenai minuman ini, halaman awal akan didominasi kisah-kisah tragis penegak lapen, dari kebutaan, kelumpuhan, sampai kematian massal. Namanya pun sudah cukup sangar Lapen merupakan singkatan dari “langsung pening”. Memang cara pembuatannyapun akan membuat kita geleng kepala. Alkohol 98,5% dicampur 15 liter air mineral ditambah gula dan pemanis lainnya, didiamkan 12 jam siap untuk dikonsumsi. Anda yang jeli akan bertanya alkohol apa yang dipakai? Disitulah masalahnya karena tidak jelas maka minuman ini sering terkontaminasi Methanol yang sangat beracun (bahan kosmetik, pembersih, dll) yang akan menjadi asam di dalam tubuh dan menyerang sistem saraf terutama saraf mata. Lebih parahnya lagi di Yogyakarta para pemuda yang hilang arah sering adu keberanian dengan mencampur Lapen dengan berbagai cairan lain untuk memperkuat rasanya, dan yang kami maksud cairan bukan hanya cairan minuman tapi bisa karbol, formalin, dan bahan kimia apapun yang bisa Anda pikirkan. Tidak heran halaman demi halaman pencarian google untuk “Lapen” dihiasi obituari dan berita pengerebekan polisi.

Ciu

Ciu merupakan sebuah nama sebutan untuk minuman keras khas dari daerah Banyumas dan Bekonang, Sukoharjo. Meskipun mungkin ada hubungannya tapi tidak sama dengan Ang Ciu atau arak merah Cina. Di Banyumas Ciu merupakan hasil fermentasi dari beras dengan kadar alkohol mencapai 50-90%. Di tempat ini Ciu illegal dan dengan aktif diberantas oleh pemerintah daerahnya. Di Bekonang di lain pihak, pembuatan Ciu ini didukung oleh pemerintah daerahnya, sehingga menjadi sangat populer dan dipasarkan ke seluruh Karesidenan Surakarta, Surabaya hingga Madura. Pada jaman dahulu setiap ada hajatan malamnya pasti diikuti dengan acara mabuk “Ciu Bekonang”. Ciu ini pembuatannya menggunakan tape dan ketan sehingga hasil fermentasi dari singkong tidak seperti saudaranya di banyumas. Kedua Ciu tidak berwarna, bening dan rasanya sangat kuat.

Anggur Orang Tua, Bir Bintang, Anker Beer dan Minuman Keras Lokal Lainnya


Meskipun masih menjadi polemik dan perdebatan di kalangan rohaniawan, minuman keras produksi skala besar telah menjadi bisnis yang sangat besar. Lihat saja grup orang tua yang dari anggur kolesomnya bisa merambah hingga ke bisnis makanan lain. Bir produksi dalam negeri (yang rasanya kalah jauh dengan bir luar negeri) juga populer di kalangan masyarakat kecil. Minuman-minuman itu ada di daftar ini hanya karena mereka dibuat di Indonesia meskipun kecil nilai tradisinya.

7 Hal yang Menyebabkan Kuliah Lama Selesai



1. Kuliah karena terpaksa
Melihat anaknya diwisuda adalah kebanggaan bagi setiap orang tua. Dari lubuk hati setiap orang tua pasti menginginkan anaknya menjadi seorang yang pintar dan sukses. Bahkan memaksa anaknya untuk kuliahpun bisa saja mereka lakukan.. Berawal dari sebuah keterpaksaan inilah maka ketika sudah menjadi mahasiswa, dia enggan untuk serius dalam kuliah, apalagi pengen cepat-cepat diwisuda.

2. Salah jurusan
Kalah dalam persaingan SPMB/UM PTN/PTS yang memiliki jurusan-jurusan favorit, menyebabkan banyak mahasiswa memilih jurusan lain (yang tidak diminati) sebagai pelarian ketika tidak diterima. Tujuannya adalah agar mereka tetap bisa kuliah meski jurusan itu bukan yang diminati.

3. Terlalu menikmati kebebasan karena jauh dari ortu
Anak Mami kalau kita sering sebut, terkadang juga menjadi faktor kuliah lama. Rendahnya pengawasan dari orang tua (jauh dari ortu) terkadang kebebasan itu dimanfaatkan secara berlebihan. Kerjanya maen, pacaran, begadang tiap malam, nongkrong sana-sini dan lain-lainnya.

4. Sibuk mengikuti organisasi kemahasiswaan ataupun Ormas
Tingkat Intelegency Emotional (IE) yang lebih besar daripada IQ mendorong mahasiswa untuk lebih senang berorganisasi, bersosialisasi, bertukar pikiran dan melakukan kegiatan-kegiatan atau bergabung dengan Ormas daripada belajar. Kesibukannya itu terkadang menghabiskan uang, tenaga, pikiran dan juga waktu sehingga kuliah terabaikan dan bukan prioritas lagi.

5. Menekuni hobi secara berlebihan
Soft Skill yang dimiliki mahasiswa mendorong untuk menjadi hobi. Hobi kalau dilakukan secara wajar itu baik, tapi kalau berlebihan, pasti mengganggu kegiatan lainnya. Beberapa hobi seorang mahasiswa antara lain: ngegame, ngeband, billiard, Playstation, ngenet, Futsal, dll.

6. Bisa mendapatkan uang sendiri (kerja)
Kerja terkadang dibutuhkan bagi mahasiswa, terutama yang kurang mampu ataupun untuk menambah uang saku. Tetapi tidak sedikit pula dari mereka yang terlena dengan pekerjaannya itu. Alasannya simple, ujung akhir dari kuliah adalah mendapat gelar sarjana yang bisa digunakan sebagai sarana untuk mencari kerja sehingga menghasilkan uang. kalau kuliah saja sudah bisa punya uang sendiri, kenapa harus buru-buru lulus? Makanya mereka lebih senang kerja daripada ngurusin kuliahnya.

7. Tidak adanya jaminan kerja setelah lulus
Tidak adanya jaminan inilah yang paling banyak membuat mereka lebih milih lama kuliah daripada lama nganggur.. Prinsipnya : Rezeki itu sudah ada yang ngatur, dan kalau sudah rejeki, gak bakal kemana. Jadi, buat apa cepat-cepat lulus kalau ujung-ujungnya nganggur? Yang sudah sarjana saja banyak yang nganggur kok.

Tuesday, May 17, 2011

Menghalalkan Ganja Aceh

Jangan biarkan sobat terkecoh dengan judul artikel di atas sebelum membaca isi daripada artikel ini hingga tuntas. Yuk, kita telusuri segala fenomena tanaman ajaib ini, mulai dari manfaat hingga kerusakan yang di akibatkan tanaman haram ini jika di salah gunakan. Di Indonesia, bila kita berbicara Ganja, Pasti tak luput Aceh di dalamnya. Namun klaim itu tak bisa serta merta disambut negatif, karena memang benar adanya.

Bahkan Tanah 1001 Rencong ini juga diklaim terkenal sebagai produsen ganja terbesar di Asia Tenggara setelah Thailand. Hampir di setiap jengkal belantara Aceh dihiasi tanaman ganja. Tak pelak, Isu Aceh sebagai penghasil tanaman ajaib ini bahkan sudah mendunia. Syahdan, *Anggapan masyarakat internasional bahwa Aceh telah memiliki trade mark sebagai ‘ladang ganja’ terbesar sekaligus penyuplai ganja berkualitas Nomor Wahid.

Pertanyaannya, kenapa mesti Ganja? Kan masih banyak komoditi lainya, seperti palawija dan berjuta jenis tumbuhan lainya. Jawabannya adalah, karena tanaman lain tak ada yang mem-backup alias menyokong atau alias-alias dan alias lainnya. Kalau saja polisi sedang gemar berpatroli, dalam satu bulan saja dapat menemukan hingga ratusan hektar ganja di hampir seluruh wilayah Aceh. Dari sekian banyak wilayah itu, Bireuen dan Aceh Besar-lah yang disinyalir terdapat ladang ganja terluas di seluruh Aceh.

Satu kali operasi saja, polisi bisa menemukan 20 sampai 90 hektar ladang. Hitung saja jika satu hektar menghasilkan 100 kilogram ganja siap panen jika per kilogram nya Rp. 2 juta atau Rp. 200 juta per hektar. Harganya kian melonjak hinggaRp. 3,5 juta per kg jika di jual eceran. Katakanlah jumlah keseluruhan ladang ganja di Aceh ada 1000 hektar walau tidak valid, dengan asumsi setahun 3 x panen, Maka setiap kali panen omset per tahun , yaitu 100 ribu kg x 3,5 jutax 3 = Rp 1,05 triliun. Duit semua itu ...!!

Dengan demikian hasil ganja Aceh hampir mengimbangi seperempat dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA). Bayangkan, jika hasil tanaman ini diekspor, tentu menghasilkan keuntungan berlipat ganda, apalagi ganja Aceh telah mendapat predikat standar Internasional. Untung ganja tak legal gan.., kalau legal, mungkin Aceh sudah dinobatkan sebagai negeri swasembada Ganja.Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf akan mendapat nobel layaknya Pak Hartoyang berhasil mengantar Indonesia sebagai Negara Swasembada Pangan.

Agan-Agan tahu tidak, bahan apa saja yang terbuat dari ganja itu?? Tanaman ini, dari akar, batang, daun hingga ranting merupakan bahan paling istimewa untuk pembuatan kertas dan kain. Selain itu gan, bijinya bisa digunakan sebagai bahan bakar minyak, baik langsung, maupun diubah melalui proses pirolisis menjadi batu bara, metana, methanol. Ganja bahkan jauh lebih baik daripada minyak bumi karena bersih dari unsur logam dan belerang, jadi lebih aman dari polusi. dan Lebih dari itu juragan, biji ganja sangat amat bergizi, dengan protein berkualitas tinggi, bahkan lebih tinggi dari kedelai.

Ganja ternyata bukan hanya sebatas itu saja, bahkan serat tanaman ganja jenis hemp dipakai untuk tali pengikat kapal perang Tentara Armada Laut Amerika Serikat pada Perang Dunia II. Tentunya setelah diolah terlebih dahulu. Sebuah data dari dunia maya menyatakan, serat ganja setelah diberi sentuhan teknologi, keunggulannya melebihi baja dan halus seratnya mampu mengalahkan serat kapas.

Seiring perkembangan dunia industri, negara-negara maju, seperti Tasmania, salah satu negara yang tergolong paling besar memanfaatkan potensi ganja. Negara ini memanfaatkan ganja dengan menurunkan kadar THC (Tetrahydrocannabinol) untuk memproduksi bahan tekstil, kertas, bahanpembuat makanan, tapak rem dan kopling hingga untuk tali.

Sementara di Inggris terdapat pusat pengelolaan marijuana atau ganja. Lembaga itu meneliti tanaman ini secara medis dan farmasi. Hasilnya, tanaman yang daunnya berbentuk jari ini tetap diandalkan dan menjadi obat ampuh. Seperti pasien lumpuh dapat disembuhkan dengan terapi mariyuana dan dapat berjalan kembali layaknya orang normal, tidak impoten, dan mempunyai daya ingat yang tinggi.
Dan di Kanada, pihak pemerintah melegalisasikan ganja untuk farmasi. Dilaporkan telah banyak pasien yang terbantu, seperti mengurangi rasa mual pada penderita AIDS dan penyakit lainnya. Pemerintah Kanada mengijinkan pembelian ganja dengan resep dokter di apotek-apotek lokal. Satu ons dijual sekitar 113 US dollar dan ganja dikirim melalui kurir ke pasien atau dokter mereka.

Menurut ahli medis nih Gan.., komposisi kimia yang terkandung dalam ganja adalah Cannibanol, Cannabidinol atau THC yang terdiri dari Delta -9- THC danDelta -8- THC. Delta -9- THC sendiri dapat mempengaruhi pola pikir otak manusia melalui penglihatan, pendengaran, dan suasana hati pemakainya. Sementara Delta -9- THC diyakini para ilmuwan medis mampu mengobati berbagai penyakit. Daun dan biji ganja membantu penyembuhan penyakit tumor dan kanker. Akar dan batangnya bisa dibuat jamu yang mampu menyembuhkan penyakit kejang perut (kram), disentri, anthrax, asma,keracunan darah, batuk, diare, luka bakar, bronchitis.

THC sendiri gan merupakan zat yang dapat menghilangkan rasa sakit, misalnya pada penderita glukoma. THC memiliki efek analgesic, yang dalam dosis rendah saja bisa bikin ‘tinggi’. Bila kadar THC diperkaya, bisa lebih potensial untuk pengobatan. Selain itu di masyarakat tradisonal, ganja dipakai sebagai herbal medicine. Namun bila dipakai sembarangan dan berlebihan, karena sifatnya sebagai alusinogen dapat menimbulkan euphoria sesaat, malas. Efek terburuk dari ganja membuat reaksi pengguna lambat, dan cenderung kurang waspada.
Sebuah fakta lagi, kebanyakan orang takut menggunakan ganja bahkan haram bersentuhan dengannya, padahal ganja banyak dipasarkan dalam kemasan lain yang sering kita dikonsumsi sehari-hari, misalnya sebagai obat antikantuk,obat pelangsing, obat peningkat kecerdasan, obat kuat seks dan obat untuk menambah kepercayaan diri (konfiden), dan segala macam obat lainnya.

Di luar negeri, ganja dibedakan menjadi dua bagian, yaitu ganja untuk kepentingan industri maupun medis yaitu ganja jenis Hemp, dan ganja terlarang sering disebut Cannabis. Sementara di negara kita ini tidak mengenal perbedaan ini, seperti yang tercantum dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1997, Semuanya Haram !!

Salah satu sebab mengapa ganja menjadi tumbuhan terlarang adalah karena zat THC. Jika salah digunakan, zat ini bisa mengakibatkan pengguna menjadi mabuk sesaat. Sebenarnya kadar zat THC yang ada dalam tumbuhan ganja dapat dikontrol kualitas dan kadarnya jika ganja dikelola dan dipantau dengan proses yang benar.

Kesan Aceh sebagai ladang ganja berkonotasi negatif memang telah mencoreng Aceh di mata Internasional. Untuk menyembukan luka ini, dibutuhkan keterlibatan segenap elemen mayarakat, terutama orang tua yang memiliki anak yang cerdas, kalau memang anaknya sudah Bodoh dari sananya, tanpa pakai ganja pun cit ka pa'ak alias Bengak.
 
Dengan program Alternatif Development (AD) yang dicanangkan pemerintah melalui Badan Narkotika Nasional (BNN), semoga 15 tahun mendatang, khususnya Aceh bebas dari efek negatif ganja dan dapat memanfaatkan potensi ganja sebagai komoditi ekspor unggulan untuk kepentingan industri maupun medis, tanpa harus disalah gunakan. Maksud baik pemerintah kita melindungi generasi muda dari pengaruh ganja bahkan tak kunjung berhasil, bahkan gagal total. Bahkan potensi ganja untuk kepentingan industri dan medis yang ujung-ujungnya mensejahterakan rakyat pun sia-sia.

Pada Hakikatnya, Allah menciptakan segala sesuatu karena manfaatnya, Segala sesuatu penciptaan-Nya tak pernah ada yang sia-sia. Hanya karena manusianya saja makhluk paling perusak di muka bumi,karena ulah manusia lah tanaman ini menjadi Cacat Namanya. Pada intinya manfaat tanaman ini sangatlah berguna. Jadi, tidak ada salahnya jika Pemerintah melegalisasikan alias "menghalalkan" tanaman Anugerah Allah ini untuk kepentingan medis dan industri. Coba bayangkan, Berapa banyak nyawa manusia yang dapat tertolong jiwanya bila saja para ahli medis dapat mengelola tanaman ini dengan sebaik-baiknya...?? Jika berniat "Hanya Karena Allah", Insya Allah semuanya akan baik-baik saja.'

Monday, May 16, 2011

cinta-segitiga-antara-indonesia-aceh.

Aceh Laksana seorang gadis rupawan yang menjadi incaran banyak pemuda sejak dahulu kala. Walaupun telah lama dipinang oleh lelaki yang bernama Indonesia. Namun jalinan kasih indah yang pernah terjalin dengan Malaysia, ternyata tidak mudah untuk dilupakan hingga kini.

Umpama tersebut tidaklah berlebihan untuk di sanding dengan kondisi Provinsi Aceh hari ini. Panorama alam yang indah, adat istiadat dan budaya islam yang kental serta Sumber Daya Alam yang berlimpah ruah telah menyebabkan daerah ini menjadi rebutan dari dahulu kala.

Dalam rentetan sejarah, Hanya Malaya (Malaysia-red) yang sempat memiliki kisah kasih yang indah dengan Aceh. Sedangkan saat Aceh ’dekat’ dengan pria berambut pirang (Belanda-red) antara 1873 hingga 1904, dan ’pria bermata sipit’ Negara Jepang sekitar tahun 1942, hingga mau dipinang karena termakan janji dan rayuan seorang Pria bernama Indonesia, Aceh justru banyak menderita.  Penderitaan demi penderitaan, Penghianatan hingga Kekerasan harus di lalui Aceh dalam kesendiriannya.

Cinta Aceh antara Malaysia, awalnya diperkirakan mulai pada abad ke-16 setelah jatuhnya Malaka ke tangan Portugis. Sebenarnya, bagi orang Aceh, negeri Melaka (Malaysia-red) tidaklah asing. Kerajaan Aceh Darussalam bahkan pernah terlibat perang dengan Portugis selama 130 tahun (1511-1641) hanya untuk membebaskan daerah tersebut dari jajahan Portugis.

Menurut sejarah Malem Dagang, Sultan Iskandar Muda (1607-1636) dengan armada Cakra Donya-nya berhasil membebaskan Sumatra dan Semenanjung tanah Melayu dari penjajahan Portugis dan menjadi bagian dari kerajaan Aceh. Laksamana Malem Dagang berhasil mempersatukan wilayah Sumatra dan Semenanjung tanah Melayu.

Dari peristiwa tersebutlah kemudian tercipta hubungan harmonis antara Aceh dengan Malaysia, baik pertukaran etnis hingga budaya. Hingga saat ini, ada banyak etnis melayu yang tersebar di Aceh, demikian juga sebaliknya. Hubungan ini sedikit rengang ketika Belanda dengan politik adu dombanya menancapkan ’kuku’ di Aceh. Namun hal ini tidak mampu memudarkan cinta kasih Aceh dengan Malaysia.

Sedangkan kisah Aceh dengan Belanda terjalin Pada tanggal 26 Maret 1873. Saat itu, Belanda menyatakan perang kepada Aceh, dan mulai melepaskan tembakan meriam ke daratan Aceh dari kapal perang Citadel van Antwerpen.

Sekitar 8 April 1873, pasukan Belanda mendarat di Pantai Ceureumen di bawah pimpinan Johan Harmen Rudolf Köhler, dan langsung bisa menguasai Masjid Raya Baiturrahman. Jendral Köhler saat itu membawa 3.198 tentara. Sebanyak 168 di antaranya para Perwira.

Perang Aceh adalah perang Kesultanan Aceh melawan Belanda dimulai pada 1873 hingga 1904. Kesultanan Aceh menyerah pada 1904, tapi perlawanan rakyat Aceh dengan perang gerilya terus berlanjut. Dengan kata lain, dengan rentan konflik yang lama tersebut, tidak ada masyarakat Aceh yang hidup saat itu, mengaku senang atas kehadiran ’pria berambut pirang’ tersebut.

Terakhir, Aceh juga sempat berkenalan dengan ’pria sipit’ dari Jepang. Menurut berbagai sumber, pada tanggal 12 maret 1942, pasukan tentara Jepang mendarat pertama kali di pantai Kuala Bugak Kecamatan Peureulak Kabupaten Aceh Timur, selanjutnya menyebar seluruh penjuru Aceh Timur dan daerah sekitarnya.

Masa jalinan Cinta dengan Jepang walaupun tidak berlangsung lama namun membawa akibat penderitaan yang cukup memprihatinkan, seluruh rakyat hidup dalam kondisi kurang pangan dan sandang disertai dengan perlakuan kasar dari bala tentara Jepang terhadap rakyat yang tidak manusiawi, akibatnya timbullah perlawanan/pemberontakan rakyat.

Setelah Hirosima dan Nagasaki (kota di Jepang-red) di bom atom oleh pasukan sekutu pimpinan Amerika pada tanggal 10 Agustus 1945, Jepang akhirnya menyerah tanpa syarat. Kemudian, setahap demi setahap mereka meninggalkan Aceh. Masa-masa inilah Aceh menjalin cinta kasih dengan Indonesia, hingga akhirnya menerima lamaran dan bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Tetapi, diluar pembahasan tersebut, menurut pandangan penulis, Indonesia masih seringkan kali ’cemburu’ ketika membahas persoalan Aceh dan Malaysia. Pasalnya, dalam sejumlah kasus, seperti ide meng-gonyang - ganyang Malaysia yang dikobarkan Presiden Sukarno dan isu ’mencuri’ budaya yang sempat terjadi di tanah air, justru ditanggapi dingin oleh rakyat Aceh. Hal inilah yang perlu dibahas secara lebih detail sehingga tahu akal persoalan yang terjadi.

Faktor kedekatan sejarah yang panjang dinilai telah menyebabkan mayoritas masyarakat Aceh mencintai negara jiran Malaysia, dan begitu juga sebaliknya. Sikap romantis antara masyarakat Aceh dan masyarakat Malaysia dianggap juga tidak pernah luntur walaupun pemerintah dari kedua negara ini sedang terlibat ‘perang dingin’.

Hal ini terungkap dalam seminar sehari sejarah antar bangsa dengan tema hubungan Aceh dan Keudah dan lintasan sejarah yang dilaksanakan oleh Program Studi (Prodi) Sejarah FKIP Unsyiah, di Ruang Auditórium setempat, beberapa waktu lalu.

Seminar ini dikuti oleh ratusan mahasiswa dari berbagai kampus. Hadir juga pemateri dalam seminar tersebut adalah Prof. Madya dr. Mohd. Isa bin Othman, dari Majlis Kebudayaan Negeri Keudah, Malaysia dan Dato’ Dr. Haji Wan Shamsudin Bin Mohd. Yusuf , Sejarawan Malaysia. Sedangkan untuk pemateri lokal, hadir Drs. Mawardi Umar, M. Hum, dr. Husaini ibrahim , MA, dari Prodi FKIP Sejarah Unsyiah.

Saat ide ganyang Malaysia yang dicetuskan oleh Presiden Sukarno pada 3 Mei 1964, seluruh rakyat di Indonesia panas, kecuali Aceh. Demikian juga dengan ide ganyang Malaysia yang dikobarkan pada pertengahan 2010 lalu, seluruh daerah di Indonesia lagi-lagi menjadi Panas, kecuali daerah Aceh. Ini membuktikan betapa dekatnya emosional Aceh dengan Malaysia,”ungkap Rektor Unsyiah, Prof. Darni M. Daud, saat membuka acara.
ILUSTRASI : THE TRIANGLE LOVE
Menurutnya, kedekatan Aceh dan Malaysia terjadi karena memiliki sejumlah kesamaan, baik dalam hal kebudayaan, agama serta intelektual. Kedekatan ini semakin dieratkan dengan ada penaklukan Kerajaan Keudah, Malaysia oleh Sultan Iskandar Muda dari Aceh.

Kesamaan-kesamaan inilah yang membuat mayoritas dari orang Aceh begitu dekat dengan Malaysia,”tandasnya.

Sementara itu, Prof. Madya dr. Mohd. Isa bin Othman, yang dihadirkan sebagai pemateri dari Majlis Kebudayaan Negeri Keudah, Malaysia menambahkan bahwa hubungan Aceh dan Malaysia sudah terjalin begitu erat dan terbina Sejak lama. Bahkan, sejumlah nama daerah di Malaysia menggunakan nama Aceh, demikian sebaliknya.

Ada daerah di Malaysia yang bernama Gampong Aceh, demikian juga ada Desa Keudah di daerah Aceh. Kesamaan ini bukan terbentuk karena sendirinya, melainkan karena hubungan sejarah yang panjang,”tandas dia.

Diluar seminar tersebut, menurut berbagai sumber, keturunan Aceh berdiam di sekitar Pulang Pinang, Kedah dan Perak. Mayoritas dari warga ini, disinyalir juga masih mengajarkan bahasa dan adat istiadat Aceh kepada para generasi muda mereka.

Keturunan Aceh ini juga dilaporkan menguasai hampir sebahagian besar sektor-sektor perekonomian di Malaysia. ”Rata-rata toko kelontong di Malaysia dikuasai oleh masyarakat Aceh. Ini sebabnya masyarakat Aceh memegang peranan yang Sangat penting di Malaysia hingga kini,”ungkap Maimun Lukman, 28, Dosen FKIP PPKN Unsyiah yang sempat menempuh pendidikan magíster di negeri jiran Malaysia.

Tidak hanya itu, lanjut dia, sejumlah pejabat penting di Malaysia saat ini juga merupakan keturunan asli Aceh. Namun karena telah lama berdiam diri di negeri jiran tersebut serta mengubah status kewarganegaraannya, mereka akhirnya memperoleh kepercayaan untuk menduduki jabatan tinggi.

Tetapi, para keturunan Aceh di Malaysia tetap menjalin hubungan baik dengan para pendatang baru dari Aceh. Bahkan, masyarakat Aceh yang terlibat kasus hukum di Malaysia karena menjual ganja, tetap diberikan keringan hukuman,”jelas Maimum.

Salah satu warga keturunan Aceh yang tenar di Malaysia adalah Seniman kondang P. Ramlee. Dia lahir Desa Meunasah Alue, Kecamatan Muara Dua, Lhokseumawe yang kemudian tenar di Malaysia. Sebenarnya, ada belasan pejabat lainnya di Malaysia, namun sulit untuk melancaknya satu persatu.

Keterikatan Aceh dengan Malaysia tidak hanya terasa di negeri jiran, tetapi juga di Aceh sendiri. Sebagai contoh, saat berlangsungnya final piala AFF Asia Tenggara, antara Malaysia dengan Indonesia, hati masyarakat Aceh justru mendua. Tidak sedikit masyarakat Aceh yang mendukung Malaysia, yang seharusnya adalah musuh dari Timnas Indonesia. Hal ini menandakan adanya keterikatan batin antara Aceh dengan Malaysia hingga kini.

Para pemimpin kita saat ini sebenarnya sangat sadar akan hal ini. Namun selama kedekatan ini dinilai tidak membawa kemudhratan bagi kesatuan negeri, maka dianggap adalah hal yang wajar.

Mesranya hubungan Aceh dengan Malaysia adalah romatisme masa lalu yang seharusnya menjadi pelajaran penting bagi bangsa kita saat ini. Dimana, Malaysia yang sebelumnya adalah bagian dari kerajaan Aceh ternyata mampu berkembang jauh lebih maju dari induknya sendiri.

Sedangkan membandingkan daerah Aceh dengan Negara Malaysia saat ini bagaikan membandingkan langit dan bumi. Antara kedua daerah ini, terdapat sejumlah kesenjangan yang sangat jauh berbeda sehingga sulit bagi para pemimpin kita untuk saat ini untuk mengatakan bahwa Malaya pernah menjadi bagian dari Kerajaan Aceh Darussalam.

Namun bukanlah hal yang musthahil untuk membangun Aceh hari ini sejajar dengan Negara Malaysia di masa yang akan datang. Paling tidak, dibutuhkan ketekunan dan keikhlasan yang lebih dari para pemimpin kita untuk segera berbenah setelah 31 tahun dilanda konflik.

Sejarah telah mencatat bahwa Aceh yang dahulu telah mampu menunjukan jati dirinya pada dunia dengan wilayah kekuasaan hingga ke Malaya. Disaat zaman masih serba sederhana, Kerajaan Aceh justru telah mampu berbicara banyak dengan menunjukan kepiawaiannya dalam menguasai Asia Tenggara.

Sejarah kemegahan Kerajaan Aceh dibawah pimpinan Sultan Iskandar Muda seharusnya menjadi pacuan semangat yang lebih bagi pemimpin Aceh hari ini untuk melakukan hal yang serupa untuk Aceh kedepan. Jika dulu bisa, kenapa saat itu tidak. Pertanyaan inilah yang harus dijawab oleh generasi muda Aceh hari ini dalam membangun bangsanya.

Sumpah Kerajaan Aceh (2)

Setelah rapat kerajaan dan pengambilan sumpah dilakukan, seorang pria berbadan tegap dan kulit agak hitam, masuk ke aula pertemuan. Tak ramai yang mengenalnya, karena ia orang yang bekerja di dinas rahasia. Lelaki yang tampak klimis itu penampilannya agak berbeda dengan para pejabat kerajaan. Awalnya ia dikira salah seorang uleebalang dari satu wilayah di Aceh.
SULTAN MUHAMMAD DAUD SYAH
Ia masuk memberi salam kemudian membisikkan sesuatu ke telinga Sulthan. Keduanya kemudian menuju ruang kerja Sulthan, sementara para wazir dan uleebalang dipersilahkan ke ruang penjamuan. Para wazir dan uleebalang penasaran dengan tingkah pria misterius itu. Sambil menikmati makan siang, mereka membicarakan tentang lelaki tersebut.

Tak lama kemudian Sulthan Alaiddin Mahmud Syah keluar dari ruang kerjanya bergabung kembali dengan para wazir dan uleebalang di ruang jamuan. Usai shalat dhuhur berjamaah di mesjid Baiturrahim dalam komplek istana, Sulthan Alaiddin Mahmud Syah kembali melanjutkan pertemuan. Para wazir dan uleebalang merasa ada yang tidak beres, karena sebelumnya rapat kerajaan direncakanan hanya pagi saja, dan dianggap telah selesai setelah sumpah kerajaan diucapkan. Mereka pun kembali bertanya-tanya, tentang kemungkinan-kemungkinan terburuk yang akan dihadapi. Kehadiran lelaki misterius di ruang kerja Sulthan tadi mereka kait-kaitkan dengan rapat susulan tersebut.

Di hadapan para wazir dan uleebalang, Sulthan Alaiddin Mahmud Syah berujar. Saya sudah dapat laporan dari Peutua Balei Sisasah Keurajeun bahwa Holanda sudah dapat dipastikan menyerang kerajaan kita ini,”  katanya dengan suara nyaring dan tegas. Ternyata pria misterius yang masuk ke ruang kerja sulthan tadi adalah Peutua Balei Sisasah Keurajeun yakni kepala intelijen kerajaan.

Rapat susulan itu jadi riuh, ada yang cemas ada pula yang terlihat santai, namun kebanyakan terlihat tegang. “Untuk menghadapi Holanda itu, maka hari ini dalam rapat ini saya akan membentuk kabinet perang, lanjut Sulthan.

Sulthan benar-benar mempersiapkan peperangan besar untuk menghadapi Belanda. Ia meminta kepada para menterinya (wazir) untuk menyusun kabinet perang yang efektif dan efisien tanpa banyak birokrasi. Alasannya, urusan perang harus disegerakan, tidak boleh berbelit-belit dengan birokrasi pemerintahan. Atas dasar itu pula, para birokrat kerjaan harus terlibat dalam kabinet tersebut agar lebih mudah menjalankan roda pemerintahan dan peperagangan sekaligus dalam suasana genting.

Setelah menerima berbagai masukan dalam rapat itu, Sulthan Alaiddin Mahmud Syahmenunjuk tiga wazir (menteri) untuk memimpin kabinet perang. Sulthan tetap bertindak sebagai kepala pemerintahan. Sementara untuk kabinet perang Sulthan menunjukTuanku Hasyim Banta Muda Kadir Syah sebagai Wazirul Harb (Menteri Peperangan) merangkap sebagai panglima besar angkatan perang dengan pangkatJenderal Tentara Aceh. Kemudian Tuanku Mahmud Banta Ubiet Kadir Syahdiangkat sebagai Wazirul Mizan Wazirul Dakhiliyah-Wazirul Kharijiah (Menteri Kehakiman merangkap Menteri dalam dan luar negeri) merangkap Wakil Kepala Pemerintahan. Sementara satu lagi Said Abdullah Teungku Di Meulek diangkat sebagai Wazir Rama Setia (Sekretaris Negara) merangkap Wakil Panglima Besar Angkatan Perang dengan pangkat Letnan Jenderal Tentara Aceh.

Kabinet perang ini dilantik oleh sulthan pada Minggu 1 Muharram 1290 Hijriah (1873 masehi). Mereka dilantik dan disumpahkan di dalam Mesjid Istana Baiturrahim. Upacara pengambilan sumpah dipimpin oleh Kadli Mu’adhdham Syeh Marhaban bin Haji Lambhuk. Ia berdiri menghadap ketiga pemimpin kabinet perang itu, mengangkat kitab suci Al Quran ke atas kepala mereka. Kadli Mu’adhdham Syeh Marhaban bin Haji Lambhuk kemudian membaca sumpah yang diikuti oleh ketiga pemimpin kabinet perang itu.

Isi sumpah itu.
“...Kami bersumpah, bahwasanya kami tiga orang sekali-kali tidak mau tunduk di bawah kekuasaan Holanda, dengan menyerah diri takluk di bawah kekuasaan siteru. Maka barang siapa dalam tiga orang yang tersebut namanya dalam surat istimewa ini tunduk dan takluk ke bawah kekuasaan Holanda, maka ke atasnya kutuk Allah sampai pada anak cucunya masing-masing...”
Naskah sumpah itu kemudian dicatat dalam sarakata Baiat Kerajaan, bertulis tangan dengan huruf Arab dan disimpan oleh Wazir Rama Setia sebagai dokumen baiat Kerajaan Aceh.

Setelah selesai pengambilan sumpah, maka kabinet perang mengeluarkan maklumat kepada seluruh Uleebalang dan rakyat Aceh. Maklumat itu disampaikan oleh Wakil Panglima Perang Said Abdulah tanggal 1 Muharram 1290 H (1873 M). Maklumat itu berjudul “Surat Nasehat Istimewa Keputusan Kerajaan Melawan Holanda.”

Maklumat tersebut dicatat dalam sarakata nasehat kerajaan. Isinya.
Bismillahir Rahmaanir Rahiim. Bahwa hamba memberi nasehati tuan-tuan atas nama Kerajaan Aceh beserta ahli waris kerajaan, dengan alim ulama dan rakyat Aceh khususnya, dan rakyat bawah angin umumnya.
"Wahai tuan-tuan sekalian, hamba memberi perintah hari ini, bahwa sekalian tuan-tuan kita semuanya, bersiap siap dengan apa senjata saja yang ada pada kita masing-masing, karena kita semuanya akan menghadap bahaya maut yaitu dua perkara: pertama menang, kedua syahit, ketiga tidak ada sekali-kali yaitu menyerah kalah kepada Holanda.
Ingatlah tuan-tuan, di sini hamba beri pernyataan dengan sahih sah muktamad, bahwa bangsa Holanda sudah duaratus limapuluh tahun menjajah negeri bawah angin di luar kita Aceh, sejengkal tanah Aceh jangan kita beri kepada musuh kita bersama, yaitu Holanda.
Maka barang siapa yang menyerah kepada Holanda dengan sebab tidak ada masyakkah, maka Holandalah ia. Maka orang seperti itu telah menjadi musuh Allah dan musuh Rasul dan musuh negeri dan musuh kerajaan. Maka tiap-tiap musuh seperti yang hamba sebut itu walau siapa-siapa, berhak kita bunuh sidurhaka itu, jangan kita sayang pada sibangsat itu. Kalau kita sayang pada sibangsat itu, negeri kita Aceh alamat binasa, sengsara, huruhara.
Bersatulah kita semuanya, melawan Holanda bangsa barat yang hendak merebut menjajah negeri kita Aceh. Jangan tuan-tuan ngeri dan takut, kita orang Islam wajib berperang melawan musuh dengan apa senjata yang ada pada kita masing-masing.
Maka barang siapa yang tuan-tuan dan hulubalang-hulubalang memihak berdiri kepada Holanda dengan sengaja, yang tidak ada masyakkah, maka Insya Allah Ta’ala akan datang pada suatu zaman yang kebili keubilui anak cucu tuan-tuan muntah darah dan dimandikan dengan darah oleh rakyat sendiri masing-masing, walau besar walau kecil.
Ingatlah wahai sekalian tuan-tuan Hulubalang yang khadam negeri, mulai dahulu sampai sekarang hingga akan datang, bahwa tiap-tiap orang ada jabatan mengurus negeri dan mengurus rakyat, yaitu memelihara rakyat dengan menyuruh makruf dan mencegah mungkar, dan sekalian rakyat jangan tuan-tuan perbudakkan, dan sekalian rakyat bukan buat tuan-tuan hulubalang, tapi tuan-tuan yang hulubalang semuanya, timur barat tunong baroh, buat rakyat, yaitu menjaga mengurus dengan sempurna, supaya rakyat cinta kasih lahir batin pada sekalian tuan-tuan.
Wahai sekalian tuan-tuan, bahwa rakyat itu seperti air sungai yang sangat luas lagi dalam, dan pucuknya dalam rimba gunung yang bercabang-cabang. Jika satu kali turun hujan besar, semua turun air ke dalam sungai, maka jadi banjirlah mengamuk air ke mana-mana, maka binasalah sekalian tanaman, apa-apa yang ada semuanya sudah tenggelam dengan air…”

Cucuku Keumalahayati, begitu tegas dan patriotiknya isi sumpah dan maklumat itu. Kabinet perang menyerukan semangat jihat fi sabilillah untuk melawan Belanda. Pun juga cucuku, kabinet perang menegaskan kepada para uleebalang agar tetap bersama rakyat bahu membahu melawan Belanda. Bila ada uleebalang yang memihak Belanda atau membantunya masuk ke Aceh, maka uleebalang itu adalah musuh bersama, musuh rakyat Aceh, keturunannya kelak akan kacau balau dan mati bersimbah darah bila ingkar terhadap sumpah kerajaan dan mangkir dari kewajiban jihat melawan Belanda. Ini pula yang kelak terjadi cucuku, yang membuat Aceh tak pernah aman dari konflik.

Setelah maklumat kabinet perang itu disampaikan ke seluruh pelosok negeri, rakyat berduyun-duyun menuju pantai untuk menghadapi kedatangan Belanda. Para panglima perang di setiap wilayah menyiapkan kader-kadernya untuk menghadapi ancaman perang dari Belanda. Para pemuda direkrut dan dengan suka rela memperkuat barisan tentara kerajaan. Dalam tempo singkat angkatan perang Aceh bertambah banyak. Dan perang besar tak lama lagi memang akan terjadi, perang yang memberi tamparan bagi kecongkakan Belanda.

Pada pada Senin 10 Muharram 1290 Hijriah (1873 Masehi) Sultan Alaiddin Mahmud Syah kembali memimpin musyawarah penting di dalam mesjid Istana Baiturrahim. Musyawarah itu dihadiri oleh para uleebalang dan para panglima. Dalam musyawarah tersebut sultan menjelaskan bahwa keadaan Aceh sudah sangat genting, surat menyurat dengan pemerintah Hindia Belanda semakin tegang. Mungkin dalam satu dua bulan ke depan Belanda akan menyerang Aceh.

Mendapat penjelasan seperti itu, maka para uleebalang dan para panglima diminta untuk mempersiapkan pasukan di wilayah masing-masing untuk menghadapi serangan Belanda yang sewaktu-waktu bisa datang untuk memerangi Aceh. Perang yang akan digelorakan kali ini bukanlah sembarangan perang cucuku, perang kali ini adalah perang demi martabat Aceh. Ini resmi perang kerajaan yang ditandai dengan surat Sulthan Alaiddin Mahmud Syah yang berisi perintah untuk melawan Belanda.

Surat perintah itu dikeluarkan pada 1 Muharram 1290 Hijriah (1873 Masehi) setelah melantik kabinet perang yang dikepalai oleh Tuanku Hasyim Banta Muda sebagai Panglima Besar Angkatan Perang Aceh.

Sultan menyadari akan bahaya yang ditimbulkan dari ancaman perang oleh Belanda. Ia pun memberi penjelasan tentang hal itu kepada kabinet perang bentukannya. Setelah penjelasan itu diberikan, maka Wazir Rama Setia/ Wakil Panglima Besar, Letnan Jendral Said Abdullah Teungku Di Meulek membacakan surat perintah yang berisi pemberitahuan kepada uleebalang seluruh Aceh untuk menjaga pantai Aceh dari serangan Belanda, mulai dari Kuala Gigieng dan Ladong, Kampung Pande Meunasah Kandang, Kuta Reuntang, Kuta Aceh, Pante Pirak, Babah Krueng dari Beurawe dan Gunung Kesumba.

“Tiap tempat tersebut jangan tuan-tuan tinggalkan. Kalau tuan tinggalkan tempat tersebut, salah satu tempat itu, maka musuh Holanda senang saja menyerang kita Aceh,” Perintah Sultan Alaiddin Mahmud Syah.

Dalam surat itu Sultan juga meminta kepada rakyat Aceh untuk saling bantu membantu dalam usaha melawan Belanda yang akan menyerang Aceh.
Jangan tuan-tuan berkhianat kepada Agama Islam, durhaka kepada Allah dan Rasul, durhaka kepada kerajaan dan tidak setia kepada neger dan bangsa,” lanjut Sultan dalam suratnya. Sultan juga memerintahkan untuk menghukum mati siapa saja yang memihak atau membantu Belanda (Holanda) dalam usahanya untuk menaklukkan Aceh.
Kemudian cucuku, setelah memastikan bahwa Belanda akan benar-benar menyerang Aceh, maka Sulthan kembali mengadakan musyawarah besar di Mesjid Baiturrahman yang terletak di tengah-tengah ibu kota kerajaan Aceh. Hadir dalam musyawarah itu para ulama besar seluruh Aceh, para uleebalang, para panglima, para imam, para imum mukim, keujruen dan pembesar kerajaan lainnya.

Setelah Sulthan mejelaskan bahwa kerajaan telah bertekat bulat tidak akan tunduk pada Belanda, maka Wazir Rama Setia yang merangkap Wakil Panglima Besar Angkatan Perang Aceh, Letnan Jendral Said Abdullah Teungku Di Meulek membacakan sarakata pernyataan perang. Sarakata tersebut bertanggal Kamis 20 Muharram 1290 Hijriah (1873 Masehi).

Salah satu bagian isi sara kata tersebut adalah:
…Dan sampaikan amanah hamba kepada seluruh rakyat Aceh, timu barat, tunong baroh, tuha muda, kaya dan miskin hendaklah melawan Holanda, jangan berhenti-henti dengan apa saja, yaitu perkataan, perbuatan, senjata, khusus rakyat Aceh dan umumnya rakyat bawah angin, jangan takut, jangan ngeri. Kita berperang dua menghadap maut, yaitu syahid, kedua menang, ketiga tidak ada sekali-kali yaitu kalah dengan menyerah diri kepada Holanda…
Pada bagian surat lainnya Sultan Aceh kembali meminta dengan tegas agar terus melawan Belanda dan tidak pernah tunduk apalagi menyerah kepada Belanda.
…Maka itulah wahai sekalian hulubalang Pidie semuanya, dan sekalian hulubalang Pase semuanya, Aceh Timu semuanya dan sekalian hulubalang Aceh Tengah semuanya dan sekalian hulubalang Aceh Barat semuanya, dan sekalian hulubalang Aceh Selatan semuanya, datok dan keujruen dan sekalian rakyat pada masing-masing tempat daerah tersebut, hendaklah pada sekalian tuan-tuan mengikuti menurut melawan Holanda berganti-ganti sehingga berhenti Holanda musuh kita, tidak lagi duduk di atas bumi negeri Aceh khususnya dan bumi bawah angin umumnya…
Cucuku Keumalahayati, dari surat-surat yang dikelurakan oleh Sultan Alaiddin Mahmud Syah itu jelas bahwa kerajaan Aceh telah mengadakan persiapan yang matang untuk menghadapi Belanda. Rakyat Aceh diajak untuk menyumbangkan harta benda, tenaga dan nyawa untuk menghalau Belanda masuk ke Aceh. Untuk memberikan contoh pada rakyat, maka para petinggi Kerajaan Aceh terlebih dahulu menyumbangkan hartanya untuk digunakan dalam perang melawan Belanda.

Saat itu, Wazir Rama Setia/Wakil Panglima Besar Angkatan Perang Aceh, Letnan Jendral Said Abdullah Teungku Di Meulek menyumbang 16 kilogram emas dan 4.700 riyal untuk biaya perang. Sumbangan itu diberikan pada bulan Rabiul Awal 1290 Hijriah (1873 Masehi) dan dicatat dalam sarakata risalah sedekah bertulis tangan huruf Arab, yang kemudian menjadi dokumen kerajaan peninggalan Wazir Rama Setia Kerajaan Aceh.

To Be Continued ( 3 ) ....

Oleh Iskandar Norman

Sumpah Kerajaan Aceh (1)

Raja boleh berganti dan kabinetnya boleh dirombak, tapi keteguhan sikap Kerjaan Aceh terhadap Belanda tidak pernah berubah. Aceh benar-benar seperti karang yang kekar dihantam gelombang. Hempasannya boleh saja membasahi, tapi ombak itu akan pecah menjadi buih dan terseret kembali ke tempatnya, tanpa mampu mengoyahkan kekokohan karang.

Begitulah Aceh yang dulu bersikap damai dalam diplomasinya dengan Belanda, kini Belanda datang sebagai gelombang yang ingin menghempas dan membuat Aceh basah kuyup dengan hempasannya. Tapi bagi Aceh yang sudah kepalang basah mengambil sikap penolakan terhadap Belanda, akan menghadapinya dengan jantan. Gelombang tak akan mampu menakutkan orang yang sudah basah kuyup.

Gelombang itu adalah Belanda yang akan siap-siap masuk ke Aceh dengan angkatan perangnya. Namun sebelum serangan itu dilakukan Belanda beberapa kali menggertak Aceh dengan surat-surat ancamannya. Surat yang kemudian dijawab dengan santun namun tegas oleh Sulthan Aceh, Alaiddin Mahmud Syah. Surat-surat itu mungkin tersimpan rapi di arsip lama surat menyurat Gubernemen Hindia Belanda, itu mungkin tersimpan di Leiden atau bisa jadi di pusat dokumen nasional Belanda.

Pada 1 April 1873, ribuan rakyat Aceh sudah mengasah pedang dan rencong, mereka berjaga-jaga di sepanjang pantai mulai dari Ulee Lheue sampai Kuala Tari. Sementara di kejauhan di tengah Selat Malaka, beberapa kapal berbendera Belanda melepaskan jangkar. Namun mereka tak berani merapat ke daratan. Hanya setengah lusin pria berseragam militer yang turun ke darat dengan sebuah sekoci dayung. Mereka membawa bendera putih, dan terus mendayung hingga sekocinya mencium pasir di Pante Ceureumen.

Sekelompok pemuda Aceh dengan bertelanjang dada dan hanya menggenakan celana panjang hitam yang berbalut kain selutut, menghampirinya. Mereka tampak sangar dengan pedang dan siwah di tangan. Mereka menangkap sekoci dan penumpangnya itu. Mendapat perlakukan seperti itu, si Belanda hanya angkat tangan sambil mengangkat tinggi-tinggi bendera putih seukuran kain sarung. Seorang lagi memperlihatkan selembar kertas tebal dan kasar bergulung.

Melihat gelagat seperti itu, seorang pemuda keluar dari bawah rimbun pohon cemara dan menghampiri mereka.

Mereka mau berdamai, tanya sama si Belanda itu apa maksudnya? kata pemuda itu. Belum sempat ditanya, si Belanda menyerahkan kertas berbalut yang dibawanya. Ia hanya berkata singkat. Sulthaan..., Sulthaann..., Sulthaann...,” katanya dengan logat sengaunya.

Para pemuda itu pun mengerti bahwa itu surat untuk Sulthan Aceh. Keenam Belanda itu dibawa berteduh di bawah pohon kelapa dan cemara. Mereka diawasi dengan senjata terhunus oleh pemuda-pemuda Aceh di pantai itu. Seorang pria lebih tua kemudian mengambil surat itu. Ia bergegas menunggangi kuda, membelah semak dan jalan setapak. Dua pria lainnya yang juga menunggang kuda mengikutinya dari belakang.

Penduduk sepanjang kampung pantai itu memperhatikan laju kuda yang tak biasa itu. Kalau pun ada patroli tentara kerajaan derap kuda tak sekencang itu. Pasti ada yang tidak beres. Penduduk sepanjang panta mulai cemas, apa lagi setelah desas-desus kedatangan Belanda jadi pembicaraan sejak sepekan sebelumnya. Melihat tingkah para pemuda yang siap-siap dengan pedang terhunus menuju pinggiran pantai, warga sudah mahfum, bahwa petaka itu sudah datang, dan perang akan berkecamuk.

Ketiga kuda itu terus melaju kencang, derap kakinya meninggalkan debu yang berterbangan di jalan masuk ke pusat kerajaan. Sampai di gerbang istana Darud Donya mereka memarkirkan kudanya dan dengan langkah cepat masuk ke alun-alun kerajaan. Surat itu diserahkan kepada seorang perempuan bertubuh tegap. Ia Laksamana dari divisi keumala cahaya yang bertugas sebagai komandan pasukan perempuan penjaga istana.

Ketiga pemuda dari pantai itu istirahat di balai-balai di bawah pohon rindang di perkarangan istana sambil menikmati suguhan air kelapa dan buah-buah segar dari pengawal istana. Mereka benar-benar kelelahan, butir-butir peluh mengalir di dahinya. Sementara belasan perempuan pengawal istana hilir mudik di sudut-sudut taman, mereka nampak banyak diam dan berada di ring pertama istana, sementara pria-pria terlatih berbadan kekar ada di ring kedua di alun-alun istana terus sampai ring tiga di gerbang. Begitulah seterusnya pengamanan berlapis dilakukan untuk menghadapi ancaman terburuk dari kedatangan Belanda.

Sementara di dalam istana, Sultan Alaiddin Mahmud Syah sedang memimpin rapat bersama para wazirnya (menteri). Melihat kedatangan laksamana divisi keumala cahaya itu, ia menghentikan sejenak rapatnya. Setelah membungkuk memberi salam dan hormat, laksamana itu menyerahkan surat yang dibawa dari pantai setelah oleh tiga pria berkuda kepada Sultan.

Sulthan Alaiddin Mahmud Syah menggangam erat-erat surat ujung surat itu dan membacanya dalam hati. Ia kemudian meremasnya. Para wazir penasaran dengan sikap Sulthan, mereka bertanya-tanya apa gerangan yang terjadi.“Holanda kembali mengancam kita,” katanya singkat. Orang Aceh menyebut Belanda dengan sebutan Holanda.

Sulthan bangun dan berdiri di hadapan para wazirnya itu.

Mereka terlalu congkak, sebelum Holanda itu sampai ke pesisir, siapkan penyambutan dengan meriam dan kelewang. Biar mereka tahu bahwa kita tidak sama dengan Jawa yang bisa dipermainkannya. Atas nama Allah dan nabi-Nya kita akan hadapi Holanda itu.” tegas Sultan.

Sulthan Alaiddin Mahmud Syah benar-benar marah dengan surat ancaman Belanda itu, tapi seorang wazir yang bijaksana kemudian meminta Sulthan agar menjawab surat itu dengan santun. Sulthan menerima saran wazirnya itu. Ia pun meminta Wazir Rama Setia selaku Sekretaris Kerajaan untuk menulis konsep surat balasan kepada Belanda. Setelah beberapa kali perbaikan naskah, Sulthan menyetujui dan menerakan cap stempel kerajaan di surat itu atas namanya.

Di bagian akhir surat balasan itu Sulthan Alaiddin Mahmud Syah menulis. “…kita hanya seorang miskin dan muda, dan kita sebagai juga Gubernemen Hindia Belanda berada di bawah perlindungan Tuhan yang maha kuasa. (Sulthan Alaiddin Mahmud Syah—1 Safar 1290 Hijriah / 1 April 1873 Masehi)

Surat itu diserahkan kembali kepada laksamana selaku kepala divisi keumala cahaya, yang kemudian diteruskan kepada tiga pemuda berkuda untuk membawanya ke pantai sebagai balasan kepada Belanda. Tiga pemuda itu terus memacu kudanya menuju pantai. Sepanjang jalan terdengar terikan Allahu Akbar.. dari para penduduk yang dilewatinya.

Surat itu kemudian diberikan kepada seorang panglima yang memimpin ratusan pemuda di pantai itu. Ia membawanya kepada setengah lusin Belanda yang ketakutan di bawah pohon cemara. Setelah diberikan surat itu, kawanan Belanda itu berlayar kembali dengan sekoci dayungnya kembali ke kapal yang berlabuh jauh di lepas pantai.

Surat menyurat antara Belanda dan Sultah Aceh itu sudah berulang kali terjadi. Pihak Aceh tetap menolak untuk tunduk pada kekuasaan Belanda dengan segala risikonya. Bahkan dalam surat jawabannya, Sulthan Alaiddin Mahmud Syah menegaskan bahwa Aceh statusnya sebagai kerajaan berdaulat sama juga dengan Gubernemen Hindia Belanda, yang sama-sama berada di bawah perlindungan tuhan.

Penolakan halus Sulthan Aceh itu membuat Belanda berang dan berencana untuk melancarkan serangannya ke Aceh. Menyadari bahaya semakin dekat, Sultan Alaiddin Mahmud Syah menggelar musyawarah kerajaan pada 10 Zulkaidah 1288 Hijriah (1872 Masehi) di dalam Mesjid Baiturrahim Darud Dunia. Dalam musyawarah itu hadir para ulama besar, menteri dan uleebalang seluruh Aceh.

Kepada para wazir, ulama dan uleebalang, Sulthan Alauddin Mahmud Syah menjelaskan tentang bahaya yang sedang mengancam Aceh, yakni armada militer Belanda yang sudah berada di Selat Malaka. Holanda, imperialis itu akan datang menyerang kita, maka ini hari saya permaklumkan rapat kerajaan membahas sikap penentangan kita dan mengatur siasat untuk menghadapinya, kata Sulthan.

Rapat itu berjalan alot, para ulama dengan tegas mendukung sikap sulthan yang akan melawan Belanda, sikap yang sama juga ditunjukkan pada wazir selaku menteri kerajaan. Hanya kelompok uleebalang yang agak ragu, namun karena ulama bersama wazir sudah sependapatan, mereka akhirnya juga menyetujui untuk berperang melawan Belanda. Namun, kelak para uleebalang itu ada yang ingkar dengan membuka pintu dialog dengan Belanda, tentang itu cucuku Keumalahayati, akan kuceritakan nanti ketika sampai pada kisah pengkhianatan yang sampai sekarang belum mau diungkapkan oleh sejarawan manapun. Hasymi mengaku tahu tentang itu, tapi ia juga tak berani mengungkapkan pengkhianatan tersebut.

Cucuku, rapat kerajaan yang dipimpin Sulthan Alaiddin Mahmud Syah itu melahirkan keputusan akan melakukan perang total kalau Belanda menyerang Aceh. Sebagai tanda kesepakatan tekat tersebut, mereka yang mengikuti rapat kerajaan itu mengucapkan sumpah. Sumpah itu dipimpin oleh seorang ulama besar, Kadli Mu’adhham Mufti Besar Kerajaan Aceh, Syekh Marhabab bin Haji Muhammad Saleh Lambhuk dan disaksikan oleh para alim ulama.

Para wazir kerajaan bersama uleebalang dan petinggi kerajaan berbaris dalam aula kerjaan, mereka berdiri sejajar dalam beberapa barisan. Syeh Marhaban berdiri agak ke depan di ujung kanan menghadap mereka sambil mengangkat kitab suci Al Quran dengan kedua tangannya melewati kepala. Sumpah kerjaaan Aceh pun diucapkannya dan diikuti dengan suara gemuruh oleh para wazir dan uleebalang. Sumpah itu berbunyi:
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Demi Allah...., kami sekalian hulubalang khadam Negeri Aceh, dan sekalian kami yang ada jabatan masing-masing kadar mertabat, besar kecil, timur barat, tunong baroh, sekalian kami ini semuanya, kami tha'at setia kepada Allah dan Rasul, dan kami semua ini tha'at setia kepada Agama Islam, mengikuti Syariat Nabi Muhammad Shallallahu'alaihi Wasallam. 
Dan kami semua ini thaat setia kepada raja kami dengan mengikuti perintahnya atas yang hak, dan kami semuanya cinta pada Negeri Aceh, mempertahankan dari pada serangan musuh, kecuali ada masyakkah, dan kami semua ini cinta kasih pada sekalian rakyat dengan memegang amanah harta orang yang telah dipercayakan oleh empunya milik. 
Maka jika semua kami yang telah bersumpah ini berkhianat dengan mengubah janji seperti yang telah kami ikral dalam sumpah kami semua ini, demi Allah kami semua dapat kutuk Allah dan Rasul, mulai dari kami semua sampai pada anak cucu kami dan cicit kami turun temurun, dapat cerai berai berkelahi, bantah dakwa-dakwi dan dicari oleh senjata mana-mana berupa apa-apa sekalipun. Wassalam...
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Cucuku, isi sumpah ini kemudian dicatat dan dimasukkan dalam sarakata Baiat Kerajaan, bertulis tangan dengan huruf Arab. Dokumen sumpah itu kemudian disimpan oleh Wazir Rama Setia selaku Sekretaris Kerajaan Aceh, Said Abdullah Di Meuleuk, yang kemudian disimpan secara turun temurun oleh keturunannya. Cucuku, kalau kamu ingin melihat foto kopi naskah sumpah kerajaan Aceh itu, pulanglah kamu ke Aceh sayang, kakek akan membawamu ke Pustaka Hasjmy, karena di sana ada foto kopinya. Tapi sebelumnya, kusarankan padamu untuk belajar bahasa Arab, karena naskahnya ditulis dengan aksara Arab.

Cucuku, Keumalahayati, begitu tegasnya sumpah kerajaan Aceh itu. Dari isi sumpah itu, kakek bisa melihat bahwa benih-benih pengkhianatan terhadap Kerajaan Aceh dari pihak dalam sudah tumbuh. Coba kamu baca kembali penegasan dari sumpah itu. Sulthan Aceh menyadari akan adanya pembelot di jajarannya, maka ia mengikat sumpah itu, jika ada yang berkhianat terhadap sumpah tersebut, mereka akan dikutuk oleh Allah dan Rasul sampai kepada cucunya turun temurun. Dan itulah yang kemudian terjadi sampai hari ini di Aceh. Karena segolongan orang mengkhianati sumpah itu, generasi mereka di Aceh tercerai berai.



Oleh : Iskandar Norman

Antara Aceh dan Kolombia : "Dua Negara di Dua Pilihan"

Kolombia, Sebuah negeri yang penuh dengan keindahan dan kekayaan alam yang luar biasa dan banyak sekali kemiripannya dengan Aceh. Mulai dari kekayaan alamnya, budayanya, bahkan hingga masalah gerilyawan dan konflik yang terjadi. Ada baiknya bila saya menuliskan ini agar bisa dijadikan perbandingan dan pertimbangan bagi masa depan Aceh.

Kolombia memang kaya sekali akan sumber daya alam terutama emas dan batu-batuan berharga seperti zamrud. Itulah yang menarik banyak Negara lain untuk datang dan menjajah serta menguasai. Spayol adalah salah satunya. Meskipun pada akhirnya Spayol berhasil menduduki sekian lama namun tidaklah mudah bagi Spayol untuk bisa berlama-lama karena Kolombia berhasil mempertahankan diri mereka dengan menjadi diri mereka sendiri.

Kebudayaan dan bahasa sangat mereka junjung tinggi. Jangan harap mereka mau minum kopi dari tempat lain. Bagi mereka, meminum kopi adalah bagian dari rutinitas dan budaya dan dengan meminum kopi asal negeri mereka sendiri, maka mereka bisa tetap memberikan sumbangsihnya pada bangsa dan Negara mereka. Mereka bangga sekali dengan hal ini dan jangan harap ada yang bisa mengubahnya selain bila memang mereka sendiri menginginkannya. Begitu juga dengan budaya menari.

Sepertinya, menari adalah sebuah kewajiban dan keharusan karena bila tidak bisa menari khas tarian mereka, maka akan dikucilkan. Dianggap tidak memiliki pengetahuan sopan santun dan etika karena dengan menari mereka bisa berkumpul bersama dan bersatu tanpa harus ada perbedaan. Tua muda, kaya miskin, perempuan pria, semuanya bisa menyatu. Bahkan lewat kegiatan-kegiatan seperti inilah politik persatuan mereka menjadi semakin kuat. Perlu diketahui juga bahwa orang Kolombia merupakan campuran dari berbagai etnis dunia. Indian, Eropa, Afrika, dan sedikit Asia. Sama seperti Aceh yang merupakan perpaduan dari berbagai macam etnis dunia?! Arab dan Eropa bisa dibilang sama karena asal muasal mereka sama dan struktur dari fisik mereka memang sama, begitu juga budaya.

Jika mereka ada yang menjadi berkulit hitam karena ada turunan dari Afrika, Aceh pun sama, dari India. Mirip sekali!!! Namun di sana tidak ada yang namanya perbedaan atas dari mana mereka berasal ataupun berdasarkan warna kulit dan keyakinan. Yang lebih diutamakan oleh mereka adalah solidaritas dan kebersamaan untuk kepentingan bersama. Oleh karena itulah, bahasa mereka sangat junjung tinggi. Bahasa Spayol yang mereka gunakan bukanlah bahasa Spanyol sembarangan. Adalah pantangan bagi mereka untuk berbicara asal. Mereka selalu berusaha keras untuk menggunakan bahasa “kelas satu” untuk menjaga kualitas diri mereka sendiri.

Mereka sadar penuh bahwa bahasa menunjukkan identitas dan jati diri. Karena itulah mereka berusaha keras untuk mempertahankannya. Meskipun sebagian besar bisa berbahasa Inggris, tapi jangan harap mereka mau menggunakannya kecuali bila memang perlu. Ini adalah sebuah cara mereka sendiri untuk bertahan dari masuknya pengaruh asing yang bisa merugikan mereka sendiri. Mereka tidak malu untuk tetap demikian meski di era globalisasi ini pengaruh dari mana-mana datang dan ada sejuta cara untuk bisa terpengaruh. Mereka yakin sekali bahwa bahasa mereka adalah bahasa yang “berkelas” dan “bermutu tinggi”, yang merupakan hasil dari pemikiran serta budaya yang “tinggi” pula.

Bagaimana dengan bahasa Aceh?! Sudah banyak sekali yang berubah, ya?! Siapa yang masih mau mempelajari dan menggunakan bahasa Aceh yang baik dan benar?! Padahal siapa yang tidak salut dengan kemampuan orang Aceh dalam menulis yang merupakan kemampuan berbahasa yang sangat tinggi. Bagaimana Aceh bisa menjaga eksistensinya dan tetap memiliki kepribadian bila bahasanya sendiri tidak dihormati dan dihargai?!

Bunga mawar yang menjadi ciri khas Negara tersebut dijaga sedemikian rupa hingga bibitnya pun tidak boleh diekspor dan dijual ke Negara lain. Hukumannya sangat luar biasa sekali bagi mereka yang melakukannya atau bahkan mencoba mencurinya. Tidak peduli baik masyarakat mereka sendiri ataupun turis yang datang, bila kedapatan membawa bibit, maka akan dihukum keras sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Bagaimana dengan Seulanga, bunga khas Aceh? Seberapa banyak yang masih mempedulikan bunga ini dan menyimpannya selalu di dalam hati?! Jangan-jangan sudah banyak yang tidak tahu bahwa bunga ini adalah ciri khas Aceh?!

Untuk soal ganja dan opium, Kolombia adalah salah satu pemasok terbesar di dunia. Mereka tetap memproduksinya dan menjualnya untuk berbagai kepentingan dan keperluan. Tapi, bila ada warga negaranya yang kedapatan menggunakan ganja dan opium, hukumannya sangat berat. Adalah sebuah pilihan untuk menggunakannya, tetapi jangan pernah merusak diri sendiri. “Silahkan yang lain saja rusak, jangan diri sendiri,” mungkin begitulah kira-kira prinsip mereka dalam hal ini.

Tidak beda dengan Aceh, mereka juga dulu menggunakan ganja dan opium sebagai bagian dari budaya mereka tetapi mereka sadar penuh akan apa yang bisa dirusak dengan mengkonsumsi itu semua. Bisa saja mereka tetap menggunakannya untuk berbagai keperluan budaya, tetapi mereka memilih untuk tidak melakukannya sama sekali. Uang terus mengalir, tetapi siapa yang bisa mengalahkan mereka?! Uang tersebut bukan hanya digunakan untuk kepentingan pribadi dan golongan semata, tetapi memang mereka gunakan untuk membangun negaranya.

Bagaimana dengan Aceh?! Para gerilayawan dan pemberontak yang berjuang juga tidak sembarangan berjuang dan berontak. Mereka memang keras dalam mempertahankan wilayah mereka dari serangan namun mereka juga pandai sekali untuk mempersatukan diri dengan masyarakatnya. Semua sadar penuh bahwa apa yang dilakukan adalah untuk kepentingan bangsa dan negaranya, bukan hanya untuk kepentingan dan idealisme pribadi atau golongan saja, tetapi untuk semua. Yang mereka pertahankan adalah jati diri mereka dan diri mereka sebagai satu kesatuan utuh yang sesuai dengan akar dan budaya mereka bukan yang lain. Mereka berjuang untuk tetap menjadi diri mereka sendiri, bukan untuk mengubah yang lainnya menjadi seperti yang lain.

Bila membandingkannya dengan apa yang dilakukan oleh almarhum Hasan Tiro, tentunya banyak sekali kemiripan. Sayangnya, apa yang diperjuangkan oleh beliau itu barangkali “tidak sampai” kepada generasi berikutnya. Memang sangat tidak mudah untuk bisa mengerti dan memahami apa yang menjadi buah pikir dan pemikiran seseorang yang saya anggap jenius dan memiliki visi serta pandangan jauh ke depan. Sangat dibutuhkan kerendahan hati serta cinta yang penuh dan ketulusan untuk bisa mengerti dan memahaminya dengan baik.

Sejauh apa sebenarnya rakyat Aceh mengerti dan paham tentang beliau dan apa yang telah diberikan sebagai penghargaan dan penghormatan terhadap beliau?! Mempelajari setiap kata yang beliau ucapkan pun tidak mau meski mengangkat beliau sebagai Wali. Kata bisa bicara namun kata juga bisa berdusta karena apa yang dilakukan dan diterapkan adalah bukti nyata dari apa yang sebenarnya ada di dalam benak dan hati.

Lihatlah bagaimana dengan Aceh sekarang ini?! Perjuangan apa yang sebenarnya sedang dilakukan?! Bagaimana dengan identitas diri sebagai orang Aceh sendiri?! Apakah memang sekarang ini benar Aceh?! Apakah memang aturan dan peraturan yang menjadi sebuah keharusan dan kewajiban itu memang benar Aceh?! Apa tidak bisa membedakan mana yang budaya mana yang keyakinan hingga harus menghilangkan identitas dan jati diri sehingga menjadi pribadi yang labil dan goyah?! Bagaimana seseorang bisa mempertahankan diri bila tidak memiliki kepribadian yang kokoh dan kuat?! Bagaimana bisa memiliki kehidupan dan masa depan yang lebih baik?! Bermimpi saja terus?!

Kolombia sangat keras di dalam menjunjung tinggi soal etika dan moral. Mereka bahkan mewajibkan setiap rumah untuk mengenakan gorden berwarna putih, tidak boleh yang lain. Tujuannya adalah selain untuk menjaga keindahan, mereka juga menjaga agar tidak ada perbedaan yang terlalu menyolok antara satu dengan yang lainnya. Semua aturan dan peraturan bisa dibuat tetapi semua harus ada tujuan yang jelas tetapi mereka menggunakan pendekatan budaya dan memang benar-benar untuk keadilan bersama. Seperti yang telah saya sebutkan di atas, lewat bahasa, tari-tarian, makanan, dan lain sebagainya sehingga keadilan dan adil yang merupakan prinsip dasar dari etika dan moral itu sendiri bisa diterapkan dengan baik.

Tidak ada yang perlu memaksa, dipaksakan ataupun terpaksa. Semua mau melakukannya untuk kepentingan bersama. Toh, mereka juga jadi tidak kehilangan jati diri. Malah mereka semakin kuat di dalam mengukuhkan siapa diri mereka serta merasa bangga dengan semua itu. Tidak perlu ada konflik antar mereka sendiri karena tidak ada yang harus diributkan, semuanya merasa nyaman karena mendapatkan keadilan yang merata dan menyeluruh.

Kolombia adalah sebuah Negara dengan mayoritas penduduk beragama Katholik yang sangat kuat sekali dan sangat menentang yang namanya pelacuran. Namun mereka tetap menghargai dan menghormati warganya yang memilih untuk menjadi pelacur dan menjadikan mereka sebagai Pekerja Seks Komersial yang professional. Mereka diberi hak untuk menentukan dengan siapa mereka mau melakukannya atas prinsip dasar kemanusiaan dan keadilan sehingga tidak terjadi paksaan dan keterpaksaan di dalam melakukannya. Ini juga berasarkan pertimbangan bahwa tidak mungkin pelacuran itu dihapuskan sama sekali, sehingga lebih baik dikontrol dan diorganisir dengan baik.

Paling tidak semuanya bisa dikendalikan dan tidak menjadi wabah yang bisa memberikan penyakit ke mana-mana. Urusan dosa, itu semua ditanggung oleh pribadi masing-masing. Memang terlihat sangat ekstrem dan berbeda jauh dengan pandangan kita sekarang ini karena kita sudah terbiasa dengan member nilai dan menjatuhkan hukuman tetapi tidak memberikan solusi untuk membantu mereka. Untuk memanusiakan manusia maka haruslah dengan cara yang manusiawi.

Kembali lagi ke Kolombia. Untuk urusan pendekatan hubungan luar negeri, mereka pun luar biasa sekali. Baru satu Negara yang mengundang penari dari Keraton Yogya untuk dipentaskan di teater opera kelas satu dan sangat mewah. Luar biasa megahnya! Bahkan di Indonesia pun barangkali belum pernah selain di Keraton. Sebegitu besar penghargaan dan penghormatan mereka terhadap budaya membuat yang lainnya pun merasa tersanjung dan terhormat sehingga kemudian ada rasa saling menghormati dan menghargai. Memang benar kata orang bijak, “Bila ingin dihormati dan dihargai, maka hargailah dan hormatilah orang lain.”

Kekuasaan bukan jaminan seseorang bisa dihormati dan dihargai, apalagi bila mengemis dan memintanya, atau memperdaya, berdusta, memfitnah, memusnahkan, dan menjatuhkan yang lainnya, maka tidak akan ada yang pernah bisa mendapatkannya. Kehormatan dan penghargaan itu hanya diberikan kepada mereka yang memang benar-benar pantas dan layak untuk diberikan atas dasar segala perbuatan dan tindakan, hasil karya, serta hati mereka sebagai seorang manusia yang seutuhnya. Harus diakui bahwa sampai saat ini masih banyak yang memiliki padangan dan persepsi negatif terhadap Kolombia yang dianggap sebagai negeri penuh dengan kekerasan dan juga sebagai Negara yang keras kepala karena tidak mau berhenti memproduksi barang-barang yang dianggap “ilegal” tersebut.

Kekerasan itu akan selalu ada dan terjadi di mana pun selama tidak masih ada yang tidak menghormati dan menghargai juga selama kepentingan pribadi, kelompok, golongan itu tetap diprioritaskan, meski mengatasnamakan kepentingan bersama. Yang diperebutkan itu memang apa?! Tidak lebih dari urusan duniawi biarpun mengatasnamakan surga sekalipun. Siapa yang memiliki surga?! Khusus untuk barang-barang yang dianggap “illegal” itu, pertanyaan saya mudah saja. “Kenapa masih mau membelinya?!” Di mana ada konsumen, di sana ada produsen. Bodoh saja yang mau membelinya dan menggunakannya, mereka sama sekali tidak menggunakannya.

Lagipula, mereka tidak melakukan ini semua untuk melakukan tindakan kekerasan baik dengan mengatasnamakan keyakinan dan perjuangan untuk membela kebenaran dan Tuhan. Mereka hanya melakukannya untuk bisa memberikan fasilitas sosial yang membuat nyaman semua warganya. Beda banget dengan Afganishtan, diakui tidak diakui.

Bagaimana juga dengan di Aceh?! Apakah memang barang-barang itu yang haram ataukah perbuatannya yang membuat itu menjadi haram?! Begitu juga dengan legal dan illegal, memang barangnya yang membuat itu illegal, ataukah karena perbuatan yang menjadikannya illegal?! Semua barang-barang itu, kan, hanya benda, sementara manusialah yang memiliki kelebihan untuk berpikir dan menentukan pilihan serta menanggung sendiri semua resiko dan konsekuensinya. Mereka tidak peduli atas nilai yang diberikan karena yang tahu persis semuanya adalah diri mereka sendiri. Apa yang mereka lakukan adalah untuk kepentingan diri mereka sendiri.

Sekarang, bagaimana dengan Aceh?! Maukah belajar untuk bisa menghargai dan menghormati diri sendiri untuk bisa menjadi kuat dan kokoh ataukah memang terus saja membiarkan semuanya seperti sekarang ini hingga Aceh itu hilang dan lenyap dengan sendirinya?! Di manakah emas paling berharga milik Aceh itu sebenarnya?! Emas terindah itu di dalam setiap diri dan pribadi mereka yang mengaku Ureung Aceh?! Maukah mengasahnya agar berkilau dan memberikan keindahannya bagi Aceh sendiri?! Semua adalah pilihan. Silahkan menentukan pilihan dan mempertanggung-jawabkannya.

acehinstitute.org