Monday, October 21, 2013

Perbudakan Di Aceh dalam Catatan Snouck


Cristian Snouck Hurgronje menulis banyak cerita tentang masyarakat Aceh dan adat istiadatnya. Ia menggambarkan orang Aceh gemar memelihara budak.

Buah pikiran Snouck tentang Aceh itu terhimpun dalam De Atjèhers, yang dalam edisi Indonesia berjudul Aceh di Mata Kolonial, terbitan Yayasan Soko Guru, Jakarta 1985. Dalam terbitan lain, meski isinya sama, buku ini diberi judul Aceh; Rakyat dan Adat Istiadatnya.


Snouck lahir pada 1857 di Belanda, masuk ke Aceh ketika usianya 34 tahun. Sebelumnya, ia lebih dahulu belajar di Mekkah, Arab Saudi, sejak 1884. Di sana, dia menggoda hati ulama Arab dengan cara memeluk Islam.

Ketika di Aceh ia mengganti namanya menjadi Abdul Ghaffar. Kefasihannya dalam berbicara tentang Islam—malah konon sering berkhutbah di mesjid—membuatnya digelar oleh rakyat Aceh sebagai Teungku Puteh; Teungku yang berkulit putih, sesuai dengan warna kulitnya.

Pada 1889 Hugronyo gagal ke Aceh. Baru dua tahun kemudian (tepatnya pada 9 Juli 1891), seperti disebutkan wikipedia, ia berhasil, bahkan menetap di Kutaraja (kini Banda Aceh). Di sana, ia menjadi orang “kepercayaan” Joannes Benedictus van Heutsz, jenderal Aceh yang kemudian menjabat Gubernur Jenderal Hindia Belanda (1904-1909).

Tujuh bulan ia berada di Aceh dengan dibantu beberapa orang pelayannya. Dalam kurun itu, Snouck mendekati ulama untuk bisa memberikan fatwa berdasarkan politik sivide et impera, serta meneliti cara berpikir rakyat Aceh secara langsung. Dan demi kepentingan keagamaan, ia berkhutbah untuk menjauhkan agama dan politik.

Dalam De Atjèhers, ada cerita menarik yang ditulis Snouck, seperti orang Mante yang tak mau makan, orang Kleng yang dikenal sebagai ureueng dagang, budak Nias yang mengawini anjing, Batak Karo yang keras kepala, dan budak Afrika yang melupakan negeri asalnya.

Cerita Mante



Ketika Snouck di Aceh, banyak beredar cerita mengenai Mante, yang tanpa dapat memberikan suatu penjelasan. Kebanyakan kisah binatang mengingatkan Snouck pada kisah yang pernah didengarnya tentang orang Dayak di Berneo (Kalimantan) pada mulanya.

Ketahanan hidup (eksistensi) mereka, sebut Snouck dalam De Atjèhers, mungkin sekali tetap, sesuai apa yang diceritakan orang Kalimantan padanya. Namun mereka tampaknya selalu tinggal di daerah yang jaraknya sehari perjalanan lebih jauh ke pedalaman. Orang Mante ini diperkirakan tanpa busana dan tubuh mereka berambut tebal. Dan dikabarkan orang Mante mendiami pegunungan di Mukim XXII.

Sepasang suami-istri orang Mante ini pernah tertangkap dan dihadapkan kepada Sultan Aceh, yang terjadi pada masa kakek mereka. Namun kemudian, mereka mati kelaparan karena menolak untuk berbicara atau makan meskipun telah dibujuk dengan segala upaya.

Menurut Hugronyo, dalam tulisan tentang Aceh dan dalam percakapan sehari-hari, orang yang tolol dan serba canggung disamakan dengan orang Mante. Di daerah dataran rendah, perkataan ini pula dipakai untuk memberi julukan kepada penduduk dataran tinggi, di mana di mata mereka dianggap kurang beradab. Dalam arti yang sama juga diterapkan orang daratan tinggi pada penduduk pantai barat yang berdarah campuran.

Melayu dan Keling


Aneuk Jamee dijuluki untuk penduduk pantai barat, karena kebanyakan mereka merupakan keturunan asing atau tamu atau aneuk Rawa (orang asal daerah Rawa). Dan sebutan ini masih ditambahi olok-olok meuiku (berekor). Maksud orang Rawa di sini adalah ekor layang-layang di Aceh, yang oleh Snouck memberikan catatan kalau sebutan ini berdasarkan sindiran pada arti appelatif (penyebutan sesuatu berdasarakan penemu).

Orang-orang asing ini, dengan atau tanpa ekor juga memberikan sumbangan mereka pada susunan suku Aceh. Snouck tidak meragukannya. Ia mencontohkan pada sejumlah besar orang Kling (Kleng, ureueng dagang) di Aceh dan di pantai timur yang melahirkan lebih banyak keturunan campuran. Tulisnya, di Aceh Besar, perkataan ureueng dagang (orang asing tanpa embel-embel) dianggap menunjukkan orang Keling.

Akan tetapi, Snouck mengganggap sumbangan semua orang asing itu—juga dari orang Arab, Mesir, Jawa dan sebagainya—memang benar merupakan pengaruh kebetulan saja terhadap suku Aceh; hanya di ibu kota dan di kota-kota pantai dari negeri-negeri taklukan yang kecil.


Budak Nias


Budak belian yang kebanyakan berasal dari Nias (Nieh), merupakan faktor penting dalam perkembangan suku Aceh. Asal usul orang Nias ini tergolong aneh. Saat bersamaan, di Aceh juga beredar kisah yang terdapat di kalangan orang Jawa tentang asal usul orang Kalang.

Diceritakan Snouck, seorang putri yang menderita penyakit kulit dan mengerikan, dibuang ke Pulau Nieh. Selama masa pembuangan, putri itu hanya ditemani seekor anjing. Di pulau itu ia menemukan banyak tanaman peundang dan berangsur-angsur mulai mengenal khasiat penyembuhan dari akar peundang. Anehnya, putri itu kemudian menikahi anjing tersebut.

Snouck memberi catatan dalam bukunya, bahwa menurut kisah orang Jawa, putri itu ketika menenun menjatuhkan pintalannya. Kemudian karena enggan berdiri, ia bersumpah, bahwa siapa yang dapat mengambil pintalan itu akan menjadi suaminya. Anjing tadi cepat-cepat mengambil pintalan tersebut dan kemudian menuntut haknya pada sang putri. Maka menikahlah putri itu dengan anjing tersebut.

Dan dikabarkan, perkawinan itu menghasilkan seorang putra. Ketika putra itu dewasa, ia ingin menikah. Akan tetapi, pulau Nias saat itu tiada penduduk selain ibunya. Lalu si ibu memberi cincin yang akan menunjukkan jalan bagi putranya; jika bertemu dengan wanita yang cocok dengan cincin itu, maka itulah istrinya. Anak itu kemudian megembara ke seluruh pulau tanpa bertemu dengan seorang wanita pun. Pada akhirnya ia bertemu kembali dengan ibunya yang cincinnya cocok di jari ibunya. Mereka kemudian menikah. Dari perkawinan terlarang itulah, seluruh penduduk Nias berasal.

Tentang muasal orang Nias yang hina itu tidak ditemukan ciri khas seperti yang diceritakan di Jawa mengenai orang Kalang; perkawinan dengan anjing dan perkawinan terlarang mempunyai persamaan. Akan tetapi mengenai orang Kalang dikisahkan, bahwa induk mereka berasal dari hewan yang paling kotor diantara semua hewan, yakni babi.

Menurut legenda, putri yang hidup di rimba dilahirkan oleh babi hutan yang mengandung secara aneh. Diceritakan, Ratu Baka meminum air kelapa ketika beristirahat di sela-sela berburu, lalu ia kencing dalam tempurung. Kemudian babi hutan betina menemukan tempurung itu dan meminum isinya. Karena isi tempurung itu bukan air kencing saja—sebab usai kencing, Ratu Baka mempunyai nafsu berahi—lahirlah putri tadi.


Berdasarkan kisah geneologis, dalam silsilah orang Nias tidak memiliki babi. Tetapi dalam percakapan sehari-hari, mereka tetap dikatakan keturunan anjing dan babi. Bahkan ada sajak (hadih maja) yang mengejek orang Nias atau keturunan campuran Nias yang bunyinya, “Nieh kumudee; uroe bee buy, malam bee asee.” Artinya, “Orang Nias yang makan buah mengkudu; bau seperti babi di siang hari, seperti bau anjing di malam hari.”

Snouck juga membubuhi catatan, bahwa buah mengkudu dimakan orang Aceh sesudah dibuat rujak (cinicah/lincah) atau direbus dengan sari aren dan gula. Orang Nias suka memakannya mentah-mentah. Sehingga tak jarang orang Aceh katakan, “Nieh kumudee, biek hana malee” yang artinya “Orang Nias penggemar mengkudu, orang yang tak pernah malu”.

Meskipun semua kisah dan ungkapan demikian beredar dan orang Nias banyak menderita kurap (penyakit kulit), masyarakat Aceh sangat menyenangi mereka sebagai budak. Karena mereka dianggap penurut, suka belajar, rajin dan dapat dipercaya. Wanitanya cantik seolah-olah melebihi wanita Aceh sendiri. Sedang pemudanya menjadi penari seudati.

Dalam adat Aceh, keturunan dari garis ibu sangat penting. Musabab itu, orang enggan sekali untuk mendapat keturunan dengan budak wanita, meskipun hal ini dibolehkan dalam Islam. Snouck menulis, pergaulan antar majikan dan budak wanita sangat terbatas bila dibandingkan dengan keadaan di negeri islam lain. Kalaupun sampai terjadi hubungan seperti itu, segala jalan akan ditempuh untuk mencegah atau menghilangkan akibatnya yang biasa. Walau begitu, masih terdapat saja anak yang lahir dari hubungan semacam pergundikan tadi.


Namun demikian, kata Snouck, masih ada jalan lain untuk menyalurkan lebih banyak darah Nias ke dalam tubuh orang Aceh. Dia mencontohkan pada pria yang lama tinggal di suatu daerah tertentu tak jarang menikah dengan salah seorang budak temannya atau pemberi anugerah. Bahkan sering terjadi orang Aceh menikah dengan budak di daerah tempat tinggalnya sendiri atau daerah yang berdekatan, maka ia berani menghadapi umpatan dan kebencian keluarga terdekatanya demi kecantikan wanita pilihannya itu.

Batak di Aceh


Menurut Snouck jumlah budak dari suku bangsa lain di Aceh sangat kecil bila dibandingkan dengan orang Nias. Memang di sana-sini orang Aceh pernah mengambil pria Batak sebagai budak (jarang sekali wanitanya), tetapi sifat mereka umumnya dianggap tidak baik, berbeda dengan Nias yang dipuji. Dia menulis, orang Batak dikatakan sebagai pembangkang, malas dan menaruh dendam yang tidak dapat dilupakan dan dimaafkan.

Hal ini dapat dilihat dari pengalaman atau kisah orang lain, seperti, bagaimana budak asal Batak secara licik membunuh majikannya hanya karena deraan kecil. Atau bagaimana seorang Batak sesudah menerima perlakuan baik, melarikan diri setelah terlebih dahulu membunuh anak-anak majikannya.

Snouck memberi catatan, banyak dari orang Batak itu didatangkan dari Singkil dan Trumon. Orang Aceh membedakan Batak Karee (Karau/Karo) sebagai yang paling liar dan nakal dibanding Batak lain seperti Batak Pakpak, Batak Tuba (Toba), dan Batak Maloylieng (Mandailing). Anehnya, orang Aceh menjuluki semua jenis orang Batak dengan nama Batak Karee tadi, gara-gara watak mereka yang nakal dan liar.

Budak Abeusi


Tidak banyak orang terkemuka yang mampu menikmati kemewahan dengan mengimpor budak wanita Cina dan Semenanjung Malaka, tulis Snouck dan menjadikan mereka gundik. Ia mengatakan kalau orang Aceh lebih sering membawa budak dari Mekah sesudah melakukan ibadah haji, baik pria maupun wanita.

Untuk budak-budak yang dibawa dari Afrika, orang Aceh menyebut Abeusi kepada orang Abesinia dan Ethiopia. Orang-orang Afrika ini kalau sudah diperbudak orang Aceh, mereka tak peduli lagi pada negeri asal. Memiliki orang Abeusi sebagai pembantu rumah tangga menjadi kebanggan tersendiri bagi majikan Aceh.


Lagi-lagi Snouck memberi catatan dalam hal ini. Disebutkannya, bahwa saat itu di Ulee Lheue (Olehleh) masih ada budak Sirkassia yang dibebaskan, yang waktu itu milik Habib Abdurrahman (seorang keturunan Arab yang pernah menjadi wakil pemerintahan Aceh dan kemudian “dibeli” Belanda dan dikirim ke Mekkah), yang juga mengimpor budak India ke Aceh. Namun hal ini sangat jarang terjadi.

Hukum Perbudakan di Aceh


Menurut Snouck hukum perbudakan di Aceh juga mengalami penyimpangan dari hukum Islam. Memang, wajar dan umum bila pemilik budak segera melakukan kekerasan terhadap budak wanita mereka. Hal sama terjadi di Arab, pantangan berkala terhadap budak wanita yang baru dibeli, jarang atau tidak pernah diindahkan.

Namun di Aceh, sebut dia, hal itu dilanggar orang tanpa rasa malu. Dan kebanyakan dari mereka sama sekali tak menyadari bahwa mereka justru melanggar hukum yang sama yang mereka hormati, yang menyatakan mereka telah melakukan tindakan penculikan.

Di Dataran Tinggi (Tunong), tulis Snouck, budak jauh lebih sedikit dari pada di Dataran Rendah (Baroh), seperti lebih sedikit hal-hal yang membuat hidup lebih enak dan menyenangkan. Lalu oleh dia menegaskan, petunjuk cukup banyak, suku manakah yang di masa lalu memberikan sumbangan ke arah peningkatan atau penurunan mutu rakyat Aceh. Terlepas dari itu, sebaiknya memandang suku ini sebagai suatu kesatuan, karena setiap pendapat mengenai hal yang sama akan dianggap prematur.

Orang Dataran Tinggi dan Rendah



Snouck menyebutkan, orang Aceh yang berasal dari berbagai bagian Aceh Besar, satu sama lain dapat dibedakan dari sejumlah besar ciri khas setempat tentang bahasa, adat, ketakhayulan, busana dan sebagainya.

Perbedaan itu antara lain, perbedaan antara penghuni Datarang Tinggi (Ureueng Tenong), terutama yang berasal dari sagi Mukim XXII dan penduduk Dataran Rendah (Ureueng Baroh), yakni penduduk dari sebagian besar kedua sagi yang berbeda (Mukim XXVI dan XXV) termasuk ibukotanya. Beberapa bagian dari kedua sagi itu hampir memiliki bahasa dan adat yang sama dengan Ureueng Tunong, seperti Ureueng Bueng yang tinggal di Mukim Bueng VII2 dalam sagi Mukim XXVI

Friday, October 11, 2013

Syiah Kuala Bukan Syi’ah Kuala!


APA yang ada didalam benak Anda ketika mendengar nama Universitas Syiah Kuala? Mungkin sebagian akan berspekulasi bahwa Universitas ini berpaham Syi’ah atau didirikan oleh seorang Syi’ah.

Tidak dipungkiri, bahwa banyak masyarakat dan segelintir orang dari luar Aceh terjebak pada penabalan nama “Syiah” pada Universitas terbesar di Aceh tersebut.

Sesungguhnya makna “Syiah” yang melekat pada Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) bukanlah berarti Syi’ah atau berpaham Syi’ah.

Jika ditelusuri secara histori, “Syiah” yang melekat pada Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) diambil dari nama seorang ulama Ahlus-Sunnah (Sunni) yang sangat berpengaruh dan tersohor di zamannya.

Menurut cendekiawan Mulim Indonesia, Azyumardi Azra, Ulama ini bahkan menjadi salah satu orang yang paling bertanggung jawab dalam membuka jaringan Ulama di seluruh Nusantara, bahkan di dunia Internasional.

Berkat jasanya juga, orang-orang Indonesia kemudian masuk dalam jajaran jaringan ulama dunia.

Siapa Syiah Kuala?


Lahir di Singkil, Aceh 1024 Hijriyah/1615 Masehi, Abdurrauf begitulah nama yang dilekatkan kepada anak lelaki itu. Dalam pertumbuhannya kelak ia dikenal sebagai ulama Besar. Dan orang-orang dengan hormat memanggilnya dengan sebutan Syeikh Abdurrauf.

Namanya yang singkat dan sederhana ini kadang-kadang dilengkapi dengan Syeikh Abdurrauf bin Ali al-Fansuri. Oleh kharisma yang dimilikinya kemudian orang memberi sejumlah gelar seperti, Syeikh Kuala, Syeikh di Kuala atau Syiah Kuala dan Teungku Syiah Kuala. (bahasa Aceh, artinya Syeikh Ulama di Kuala)

Disebut Syiah Kuala karena Syeh Abdurrauf pernah menetap dan mengajar hingga wafatnya dan dimakamkan di Kuala sungai Aceh.

Syeikh Kuala memang bukan nama asing bagi masyarakat Aceh saja. Tetapi dikenal di seantero ranah Melayu dan dunia Islam international. Syeikh Kuala atau Syeikh Abdurauf Singkil adalah tokoh tasawuf juga ahli fikih yang disegani.

Nama lengkapnya ialah Aminuddin Abdul Rauf bin Ali Al-Jawi Tsumal Fansuri As-Singkili. Menurut riwayat masyarakat, keluarganya berasal dari Jazirah Arabia yang menetap di Singkil pada akhir Abad ke-13.

Pada masa mudanya, ia mula-mula belajar pada ayahnya sendiri. Ia kemudian juga belajar pada ulama-ulama di Fansur dan Bandar Aceh (Banda Aceh saat ini).

Selanjutnya, ia pergi menunaikan ibadah haji, dan dalam proses pelawatannya ia belajar pada berbagai ulama di Timur Tengah untuk mendalami agama Islam.

Syeikh Abdurrauf sempat pula belajar di Samudera Pasai di Dayah Tinggi Syeikh Shamsyuddin as-Sumatrani. Dan setelah Syeikh Syamsuddin pindah ke Bandar Aceh, kemudian diangkat Sultan Iskandar Muda sebagai Qadhi Malikul Adil.

Disebut pula Syeikh Abdurrauf telah berkenalan dengan 27 Ulama besar dan 15 orang Sufi termashur di Jazirah Arabia.

Beliau dikenal sebagai murid yang paling masyhur dari Ahmad Al Qusyasyi & Ibrahim Al Kurani yang merupakan seorang tokoh jaringan ulama di Mekkah dan Madinah.

Abd Al Rauf mempelajari berbagai disiplin ilmu islam mulai ilmu –ilmu yang ia sebut dengan “lahir”-seperti tata bahasa Arab, membaca Al Qur’an, hadist, syari’at,-sampai ilmu-ilmu batin “batin” mengenai tasawuf. Abd Al Rauf memperlihatkan bahwa ia mempelajari ilmu-ilmu lahir sebagian besr di Yaman.

Menurut sejarawan Aceh, Ali Hasjmi, Abdurrauf pernah belajar seni membaca Al Qur’an di Zabid dengan Syeikh Abd Allah Al Adani, yang ia sebut sebagai Qari terbaik di Yaman.

Lebih lanjut Hasjmi menyatakan bahwa ia pernah menghabiskan waktu yang paling panjang mempelajari ilmu-ilmu “lahir” dengan Syeikh Ibrahim bin Abd Allah Jam’an di Bait Al Faqih dan Mauza’ Syeikh Ibrahim Jam’anlah yang memperkenalkannya dengan Ahmad Al Qusyasyi yang dipandang oleh Syeikh Ibrahim sebagai seorang ulama terbesar pada zamannya.

Abdurrauf banyak memperoleh penghargaan yang tinggi dari para gurunya terutama Ahmad Al Qusyasyi dan Ibrahim Al Khulani.

Hingga Al Qusyasyi mengangkatnya sebagai Khalifah Syatariah agar menyebarkan tarekat ini ke kampung halamannya, kelak ketika kembali ke Aceh. Abd Al Rauf juga menjalin hubungan dengan keilmuan dengan ulama-ulama terkemuka di Madinah.

Ia mencantumkan dalam daftarnya para ulama seperti Mullah Muhammad Syarif Al Kurani, Ibrahim Al Kurani, Isa Al Magribi dan Ali Bashir Al Maliki Al Madani (w.1160/1694), Ibn Abd Al Rasul Al Barzanji, Sufi tersohor kala itu, Ibrahim bin Al Rahman Al Khiyari Al Madani (1047-83/1638-72) seorang murid Ala Al Din Al Babili, Al Babibili sendiri merupakan seorang Muhaddist terkemuka di Haramain kala itu.

Pengaruhnya sangat penting di Kerajaan Aceh. Hingga di Aceh ada semacam kata-kata yang berbunyi;

“Adat bak Poteu Mereuhom, Hukom bak Syiah Kuala” maksudnya, “Adat di bawah kekuasaan almarhum (raja), sementara syariat (Islam) di bawah Syeikh Kuala.

Ayat ini menjelaskan betapa besarnya kuasa, peranan dan pengaruh Abdurrauf dalam pemerintahan ketika itu yang hampir sama besar dengan kuasa sultan. Ketika gabungan antara umara dan ulama inilah juga Aceh mencapai kegemilangan.

Sementara itu Hamka yang juga ahli filosofi dan ulama modern Indonesia, di dalam tulisannya pernah menurunkan sebaris kata-kata yang dinukilkan oleh Fakih Shaghir seorang ulama terkenal di zaman Perang Paderi, yaitu nenek kepada Sheikh Taher Jalaluddin az-Azhari (wafat pada 1956 di Kuala Kangsar), yang berbunyi:

“Maka adalah saya Fakih Shaghir menerima cerita daripada saya punya bapa, sebabnya saya mengambil pegangan ilmu hakikat, kerana cerita ini adalah ia setengah daripada adat dan tertib waruk orang yang mengambil fatwa juga adanya. Yakni adalah seorang aulia Allah dan khutub lagi kasyaf lagi mempunyai karamah iaitu, di tanah Aceh iaitu Tuan Syeikh Abdurrauf.”

Berdasarkan kronologi pengembaraan, proses berguru, dan juga fakta di lapangan, tak dapat dikaitkan syi’ah (aliran teologi dalam islam) dengan Syiah Kuala.

Dari uraian diatas sedikit banyak dapat digaris bawahi, bahwa Syiah Kuala dan Syi’ah (aliran teologi islam) tidak memiliki hubungaan sepesifik, terutama dalam konteks perguruan tinggi, lafazh Syiah sendiri berasal dari kata Syeikh yang mengalami afiliasi dengan lahjah setempat.

Sedangkan Kuala, merupakan lokasi makam beliau yang letaknya dekat muara sungai Aceh, sebab inilah beliau memperoleh nama sebutan Syiah Kuala / Teungku di Kuala.
Sumber: http://forum.viva.co.id/sejarah/1257935-syiah-kuala-bukan-syi%92ah-kuala.html

Sejarah Kehidupan Manusia Purba Pertama di Indonesia




Catatan dari ‘Eden In The East, The Drowned Continent’ karya Stephen OppenheimerPara ahli sejarah umumnya berpendapat bahwa Asia Tenggara adalah kawasan ‘pinggir’ dalam sejarah peradaban manusia. Dengan kata lain, peradaban Asia Tenggara bisa maju dan berkembang karena imbas-imbas migrasi, perdagangan, dan efek-efek yang disebabkan peradaban lain yang digolongkan lebih maju seperti Cina, India, Mesir, dan lainnya. Buku Eden In The East yang ditulis Oppenheimer seolah mencoba menjungkirbalikkan pendapat meinstream tersebut.

Oppenheimer mengemukakan pendapat bahwa justru peradaban-peradaban maju di dunia merupakan buah karya manusia yang pada mulanya menghuni kawasan yang kini menjadi Indonesia. Oppenheimer tidak main-main dalam mengemukakan pendapat ini. Hipotesisnya disandarkan kepada sejumlah kajian geologi, genetik, linguistik, etnografi, serta arkeologi.Gagasan diaspora manusia dari kawasan Asia Tenggara dicoba untuk direkonstruksi dari peristiwa di akhir zaman es (Last Glacial Maximum) pada sekitar 20.000 tahun yang lalu. Pada saat itu, permukaan laut berada pada ketinggian 150 meter di bawah permukaan laut di zaman sekarang. Kepulauan Indonesia bagian barat, masih menyatu dengan benua Asia sebagai sebuah kawasan daratan maha luas yang disebut Paparan Sunda.


Ketika perlahan-lahan suhu bumi memanas, es di kedua kutub bumi mencair dan menyebabkan naiknya permukaan air laut, sehingga timbul banjir besar. Penelitian oseanografi menunjukan bahwa di Bumi ini pernah tiga kali terjadi banjir besar pada 14.000, 11.000, dan 8.000 tahun yang lalu. Banjir yang terakhir adalah peristiwa yang menyebabkan kenaikan permukaan air laut hingga setinggi 8-11 meter dari tinggi permukaan asalnya. Banjir tersebut mengakibatkan tenggelamnya sebagian besar kawasan Paparan Sunda hingga terpisah-pisah menjadi pulau-pulau yang kini kita kenal sebagai Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Bali.

Oppenheimer mengemukakan bahwa saat itu, kawasan Paparan Sunda telah dihuni oleh manusia dalam jumlah besar. Karena itulah, menurutnya, hampir semua kebudayaan dunia memiliki tradisi yang mengisahkan cerita banjir besar yang menenggelamkan sebuah daratan. Kisah-kisah semacam banjir Nabi Nuh as, olehnya dianggap sebagai salah satu bentuk transfer informasi antar generasi manusia tentang peristiwa mahadahsyat tersebut.


Menurut Oppenheimer, setelah terjadinya banjir besar tersebut, menusia mulai menyebar ke belahan bumi lainnya. Oppenheimer menyatakan bahwa hipotesisnya ini disokong oleh rekonstruksi persebaran linguistik terbaru yang dikemukakan Johanna Nichols. Nichols memang mencoba mendekonstruksi persebaran bahasa Austronesia. Sebelumnya, Robert Blust (linguis) dan Peter Bellwood (arkeolog) menyatakan bahwa persebaran bahasa-bahasa Austronesi a berasal dari daratan Asia ke Formosa (Taiwan) dan Cina Selatan (Yunnan) sebelum sampai ke Filipina, Indonesia, kepulauan Pasifik dan Madagaskar. Nichols menyatakan konstruksi yang terbalik di mana bahasa-bahasa Austronesia menyebar dari Indonesia-Malaysia ke kawasan-kawasan lainnya dan menjadi induk dari bahasa-bahasa dunia lainnya.

Oppenheimer berkeyakinan bahwa penduduk Malaysia, Sumatera, Jawa, dan Kalimantan dewasa ini adalah keturunan dari para penghuni Paparan Sunda yang tidak hijrah setelah tenggeamnya sebagian kawasan tersebut. Dengan kata lain, ia hendak mengemukakan bahwa persebaran manusia di dunia berasal dari kawasan ini.

Pendapatnya ia perkuat dengan mengemukakan analisa tentang adanya kesamaan benda-benda neolitik di Sumeria dan Asia Tenggara yang diketahui berusia 7.500 tahun. Kemudian ciri fisik pada patung-patung peninggalan zaman Sumeria yang memiliki tipikal wajah lebar (brachycepalis) ala oriental juga memperkuat hipotesis tersebut.

Oppenhimer juga yakin bahwa tokoh dalam kisah Gilgamesh yang dikisahkan sebagai satu-satunya tokoh yang selamat dari banjir besar adalah karakter yang sama dengan Nabi Nuh as dalam kitab Bible dan Qur’an yang tak lain adalah karakter yang berhasil menyelamatkan diri dari banjir besar yang menenggelamkan paparan Sunda. Legenda Babilonia tua mengisahkan pula kedatangan tujuh cendekiawan dari timur yang membawa keterampilan dan pengtahuan baru. Kisah yang sama terdapat pula di dalam India kuno di Hindukush. Varian legenda semacam ini pun ternyata tersebar di kepulauan Nusantara dan Pasifik.

Oppenheimer lebih lanjut mengemukakan bahwa kisah yang serupa dengan kisah penciptaan Adam dan Hawa serta pertikaian Kain dan Abel (Qabil dan Habil) ternyata dapat ditemukan di kawasan Asia Timur dan Kepulauan Pasifik. Misalnya orang Maori di Selandia Baru, menyebut perempuan pertama dengan nama ‘Eeve’. Kemudian di Papua Nugini, kisah yang serupa dengan Kain dan Abel ada dalam wujud Kullabop dan Manip. Tradisi-tradisi di kawasan ini juga mengemukakan bahwa manusia pertama di buat dari tanah lempung yang berwarna merah.

Atas dasar berbagai hipotesis tersebut pula, Oppenheimer meyakini bahwa Taman Eden yang disebut-sebut dalam Bible ada di Paparan Sunda. Berbicara tentang Hipotesis Oppenheimer ini, saya juga jadi teringat salah satu ayat dalam Kitab Genesis yang dengan jelasmenyebut bahwa Eden ada di Timur. Mungkinkah Taman Eden memang berlokasi di Indonesia? Dan Manusia Pertama pun ditempatkan Tuhan di Indonesia.
Sumber: http://forum.viva.co.id/sejarah/1269863-sejarah-kehidupan-manusia-purba-pertama-di-indonesia.html