Marga-marga yang ada di Tanoh Alas Aceh Tenggara


Marga Asli

Menurut cerita masyarakat di Aceh Tenggara, ada empat Marga Asli adalah Alas, Kroeas (KeRuas), Pagan, dan Kepala Desa (Kepale Dese), menurut sejarah awal tanah alas (lih, Akifumi Iwabuchi, 1990:13). Sumber lain menyebutkan bahwa ada empat marga asli, yaitu: Marga Anggas (MeRge Anggas), Marga Pagan (MeRge Pagan), Marga Pereudeustee (MeRge Kepale Dese), dan Marga Keursuas (MeRge KeRuas) (Zainuddin, 1961:187), Menurutut Akifumi Iwabuchi, Sekurang-kurangnya ada delapan marga Asli di Tanah Alas, yaitu: MeRge Bangko, MeRge CibeRo, MeRge Deski, MeRge Keling, MeRge Kepale Dese, MeRge KeRuas, MeRge Pagan, MeRge Selian, adalah klan Asli di Tanah Alas.
  1. MeRge Bangko, marga ini mempunyai tali persaudaraan dengan MeRge CibRo, MeRge Deski, MeRge Keling, MeRge Kepale Dese, MeRge KeRuas, dan MeRge Pagan, sehingga dahulunya dilarang ada ikatan perkawinan diantara tujuh marga ini dan marga Bangko tidak boleh dengan dua puluh lima marga lainnya di tanoh alas selain dengan marga selian dan marga mencawan, karena kedua marga ini berasal dari satu klan. Marga Bangko diyakini berasal dari Sumatera bagian tenggah yang datang ke tanah alas dari danau Bangko di daerah Aceh Selatan dan Tanah Dairi. Marga Bangko dilarang memakan daging burung merpati yang berbintik (Burung Tekukur/ Streptopelia chinensis) yang disebut ndukuR dalam bahasa Alas. Marga Bangko mendiami di Desa Gulo di Kecamatan Darul Hasanah (Kecamatan Badar sebelumnya), namun sekarang marga banggo juga sudah banyak pindah dari desa Gulo dijumpai juga di Desa Terutung Pedi atau muara lawe bulan di Kecamatan Babussalam,
  2. MeRge CibRo, diyakini marga ini berasal dari daerah Minangkabau, di Daearah Karo juga ada satu marga yang mempunyai nama mirip Tijbero atau Sibro (Joustra 1926:197, Kreemer 1923:302, Singarimbun 1975:74), Di Daearah Pak pak atau Dairi marga yang sama Tijbero, Tjibëro, atau Siboro (ypes 1907:629, 632, 1932:536, 553) di Daerah Toba Sibôrô (ypes 1932:548) dan di Daerah Gayo Tjebers (Snouck Hurgronje 1903:157). Marga ini dilarang memakan daging kerbau putih-merah (Bubalus bubalis) dalam bahasa alas keRbau jagat (Kreemer 1922:506) dan pisang mas (Musa acuminate) dalam bahas alas galoh semas, marga cibro diyakini bisa memakan jenis pisang ini asal bukan yang akan memakan yang menanam pohonnya, marga ini bisa ditemui di desa Tanjung kecamatan Darul Hasanah,
  3. MeRge Deski, marga ini diyakini berasal dari Daerah Deli Sumatera Utara, sebagai bagian dari marga Bangko, yang bermarga ini dilarang memakan daging burung merpati yang berbintik (Burung Tekukur/Streptopelia chinensis) yang disebut ndukuR dalam bahasa Alas, marga ini ditemui di Desa Mbarung di Kecamatan Babussalam, Kute Bantil, Kute Genting di Kecamatan Lawe Bulan dan Desa Pedesi di Kecamatan Bambel,
  4. MeRge Keling, marga ini diyakini berasala dari India Selatan, dalam bahasa Indonesia dan Bahasa Malaysia keling merarti Kling atau Tamil dari India Selatan (Echols et al. 1963:175, Vilkinson. 1959:542) ada sub marga juga dengan mana yang sama di Daearah Karo (Singarimbun. 1975:74), di Daerah Karo istilah keeling berarti klinga (Joustra 1907:48, Neumann 1951:144) menurut (Kreemer. 1922:219), marga keling ini berimigrasi dari kerajaan Klinga di Pantai Coroiandel India Selatan Ke Aceh. Marga ini dilarang melihat dan memakan burung merpati dan menanam dan memakan jelatang dalam bahasan Alas waRang Pupus atau waRan puspus (Poikilospermum azureum). Marga ini ditemui di Desa Mamas Kecamatan Darul Hasanah, sekarang juga sudah bisa di temui di Desa Natam Kecamatan Badar,
  5. MeRge Kepale Dese, marga ini diyakini berasal dari Daerah Pagaruyung Sumatera Barat, marga ini juga dilarang memakan daging burung merpati yang berbintik (Burung Tekukur/Streptopelia chinensis) yang disebut ndukuR dalam bahasa Alas, marga ini mendiami desa Terutung Pedi, dan saat ini marga ini juga ada di desa Pulo Nas, Desa Mbatu Mbulan Kecamatan Babussalam, selain itu marga ini juga menyebut mereka bergabung dengan marga Pinim dengan maksud membentuk satu marga yang besar, hal ini dirasakan manfaatnya misalnya, bekerjasama dalam melaksanakan hajatan atau acara adat lainya,
  6. MeRge KeRuas, diyakini berasal dari danau Bangko di Daerah Aceh Selatan, jenis tanaman yang dilarang bagi marga ini adalah pohon Johar dalam bahasa Alasnya njuhaR (Cassia simaea), marga ini dapat ditemui di Desa Telaga Mekar Kecamatan Lawe Bulan, tetapi sekarang juga bisa di temui di daerah sendalanen di Kecamatan Bambel,
  7. MeRge Pagan, marga ini juga diyakini berasal dari Danau Bangko di Bagian Selatan Aceh dari jalur daerah toba dan karo, dengan sebutan dengan klan SiNaabela, Sinaanéla atau Sinambela dikalangan Batak Toba (Joustra, 1926:202, 1933:14. Vergouwen, 1964:13, ypes 1932:545) dan marga Kembaren dikalangan Batak Karo (Joustra 1926:197. Kreemer 1920:102. 1923:302, Singarimbun 1975:74) diidentifikasikan marga pagan dengan marga ini. Marga pagan dilarang memakan daging kerbau putih-merah (Bubalus bubalis) dalam bahasa alas keRbau jagat, pohon juhaR, tumbuhan putri malu/ Acacia Pennata yang disebut seRit (dalam bahasa alas). Marga ini tersebar diantara desa Kute Lengat Pagan/Kute Melie, Tualang Sembilar, dan Tualang Baru di Kecamatan Bukit Tusam, dan Desa Salim Pinim di Kecamatan Tanoh Alas, namun ada beberapa keluarga marga pagan yang pindah ke Desa-desa lain seperti Kutacane Lama di Kecamatan Babussalam, Rumah Luar di Kecamatan Lawe Alas dan Titi Mas di Kecamatan Tanoh Alas. Sebelum perang dunia II, hanya keluarga yang memiliki marga pagan memiliki keistimewaan seperti: mereka bisa berlalu lalang di depan rumah Raje (kejuRun) menggunakan kuda dengan dipayungi, sementara ke dua puluh enam marga lainnya harus menutup payung dan turun dari kuda bila melewati rumah Raje. Cerita rakyat menuturkan tiga kepada desa di Tanoh Alas waktu itu: Raja kejerun Mbatu Mbulan, Raje Kejerun Bambel dan kepala desa dari Marga Pagan, pergi menghadap raja Aceh untuk menerima gelar penguasa daerah, tetapi hanya kepala desa dari Marga Pagan yang tidak berhasil menerima gelar penguasa daerah, dan dua penguasa kejerun lainnya Batu Mbulan dan Bambel, bersimpati kepada kepala desa marga Pagan atas hak istimewa diatas,
  8. MeRge Selian, marga ini adalah marga yang terbesar dari semua marga di tanah alas, ini terdiri dari banyaknya kelompok etnis ini yang pindah ke tanah alas, dan sehingga marga ini memiliki ikatan yang lebih kuat dibandingkan dengan marga-marga yang lain di tanah alas, menurut cerita dimasyarakat semula datanglah Batak Karo ke tanah alas dan kemudiaan mereka mengangkat pendatang yang datang setelahnya yang berasal dari minangkabau, dan akhirnya pendatang dari batak dairi juga diangkat menjadi marga Selian (Akifumi Iwabuchi, 1990:13) marga Soliön (Joustra 1926:116), Solian (ypes 1907:632, 1932:553) atau Solin (ypes 1932:536, 553) di Daerah Dairi dan sub marga dari Tjolia (Joustra 1926:197) dan Sebayang (Kreemer 1920:102, 1923:302), (Singarimbun 1975:73-4,. lih Sebayang 1986:5-21) di daearah karo dianggap kelompok yang sama. Marga ini dilarang menyentuh tanaman jelatang (lihat Kreemer 1923:545). Marga ini tersebar seperti desa Gusung Batu, Penampaan, Lawe Pangkat di kecamatan Deleng Pokisen dan Kuta Ujung, Terutung Kute, Kute Rambe, Pulo Piku di Kecamatan Darul Hasanah, Desa Kuta Rih, Prapat di Kecamatan Babussalam, Kute Mbaru, Lawe Sagu, Kandang Mbelang di Kecamatan Lawe Bulan, Pulo Nas, Batu Mbulan, Terutung Pedi, Kute Pasir di Kecamatan Babussalam, Kute Lengat Selian di Kecamatan Bambel, Ngkeran, Rumah Luar, Lawe Kongkir dan Muara Baru di Kecamatan Lawe Alas, dan lain-lain.

Marga Baru

Menurut cerita di masyarakat, ada sembilan belas marga berikut datang ke Tanah Alas setelah delapan marga asli menetap di sana. Dalam hal status sosial, bagaimanapun, tidak ada perbedaan yang signifikan antara marga asli dan mereka yang termasuk marga baru.
  1. MeRge Acih. Marga ini diyakini berasal dari Aceh, seperti namanya. Namun, marga nama yang sama ditemukan di antara Batak Dairi: Atjen (ypes 1932:553). Menurut cerita di masyarakat, anggota marga ini datang ke Tanah Alas sebagai spesialis di sunat atau sayatan. Tidak ada makanan yang dilarang atau tanaman untuk marga ini. Para anggota yang tinggal hanya di desa Natam di Kecamatan Badar, namun saat ini beberapa keluarga marga Acih telah bermigrasi ke desa Pulo Nas di Kecamatan Babussalam,
  2. MeRge BeRuh. Marga ini adalah marga yang ketiga terbesar dari seluruh marga di Tanah Alas. Marga ini diyakini berasal dari Aceh (lihat Akifumi Iwabuchi, 1990:13). Benda yang dilarang untuk marga ini adalah melihat merpati, jelatang, dan lemon bernama limou Munte (Citrus limon). Para anggota marga ini tersebar, di antara desa-desa Jongar, Penyeberang Cingkam di Kecamatan Ketambe, Rambung Tel(e)dak, Tanjung, di Kecamatan Darul Hasanah dan Natam di Kecamatan Badar, Desa Batu Mbulan di Kecamatan  Babussalam, dan desa-desa Biak Muli dan Kute Lang-lang di Kecamatan Bambel,
  3. MeRge Gale. Marga ini diyakini berasal dari Desa Gölö di Gayo Luos (lihat Snouck Hurgronje 1903:223), dan tidak memiliki makanan yang dilarang atau tanaman. Ini adalah salah satu marga terkecil, ada hanya enam keluarga Merge Gale pada tahun 1988. Mereka tinggal di desa Gusung Batu di Kecamatan Lawe Bulan dan dusun Lawe pangkat di Kecamatan Deleng Pokisen,
  4. MeRge KekaRo. Marga ini diyakini berasal dari Tanah Karo, seperti namanya. Marga Karo-karo antara Batak Karo (Joustra 1926:197,346, Kreemer 1923:302; Singarimbun 1975:74) dapat diidentifikasi dengan marga ini, karena kadang-kadang Orang Alas juga menyebut suku ini marga Karo-karo oleh kesalahan. Makanan dilarang adalah talas/Colocasia esculenta (dalam bahasa alas kosap). Marga ini ditemukan terutama di desa Kute Pasir di Kecamatan Badar, desa Tenembak Lang-lang, desa Tualang di Kecamatan Deleng Pokisen dan Terutung Pelarikan di Kecamatan Lawe Bulan, Batu Mbulan di Kecamatan Babussalam, Desa Kisam dan dusun Kute Benin di Kecamatan Lawe Sumur, dan desa-desa kampung Kubu dan Lawe Kongkir di Kecamatan Lawe Alas,
  5. MeRge Mahe. Marga ini diyakini berasal dari Singkil. Sebuah nama marga yang sama ditemukan dalam tanah Dairi: Naha (ypes 1932:536,553), di Tanah Toba: Meha atau Meha (Vergouwen 1933:16; 1964:16; ypes 1932:549) dan di Singkil: Maha (ypes 1907:629). Tanaman yang dilarang adalah jelatang. Para anggota marga ini dulu tinggal di desa Kute Gerat dan Kute mbaru di Tanah Alas, yang keduanya dirambah oleh sungai Alas selama masa kolonial, tapi sekarang mereka tinggal di Desa Kute Gerat dan desa Lawe Dua di Kecamatan Bukit Tusam,
  6. MeRge Menalu. Ini adalah salah satu marga terkecil, dan diyakini telah datang dari Singkil atas undangan raja Bambel. Namun, diperkirakan marga inimemiliki hubungkan dengan marga Manaloe atau Manalu antara Batak Toba (Vergouwen 1933:14; 1933:14; ypes 1932:544,549). Marga ini dilarang memakan daging kerbau putih-merah (Bubalus bubalis) dalam bahasa alas keRbau jagat. Pada tahun 1988 hanya ada empat merge Menalu keluarga, yang terdiri dari keluarga orang tua dan orang-orang dari ketiga anak mereka, di desa Kute Batu di Lawe Alas Kabupaten. Menurut tradisi lisan, ayah kakek buyut bermigrasi ke desa ini dari desa Bambel,
  7. MeRge Mencawan. Marga ini kadang-kadang diucapkan menggabungkan Bencawan juga, dan diyakini memiliki asal yang sama dengan merge Selian (lih. Singarimbun 1975:73). Sebuah marga nama yang sama ditemukan dalam Tanah Karo: Pincawan (Singarimbun 1975:74). Menurut informan, marga ini mempunyai larangan juga sama seperti yang dari marga penggabungan Selian, yaitu. jelatang. Menurut Kreemer, bagaimanapun, kerbau putih-merah adalah makanan yang dilarang (1922:506). Anggota marga ini ditemukan terutama di dusun Bacang Lade, tetapi juga di desa-desa Kute mbaru dan Kute Bantil, di Kecamatan Lawe Bulan,
  8. MeRge Munte. Marga ini diyakini berasal dari Tanah Karo. Sebuah marga atau sub marga dengan nama yang sama ditemukan di antara Batak Karo: Moentë atau Munte (Joustra 1926:197,346; Kreemer 1923: 302; Singarimbun 1975:74), Batak Dairi: Moenté (ypes 1932:535, 549), dan Gayo: Moenté (Snouck Hurgronje 1903:158). Biasanya, makanan yang dilarang dan tanaman adalah merpati melihat dan lemon. keluarga marga Munte tinggal di Desa Lawe Hijo mungkin tidak makan atau menyentuh pucuk bambu manis raksasa bernama tubis betung (Dendrocalaius asper). Para anggota marga ini tersebar di antara desa Tanjung Kecamatan Darul Hasanah dan Gusung Batu Kecamatan Deleng Pokisen, Desa Batu Mbulan dan Kute Rih di Kecamatan Babussalam, Desa Lawe Hijo di Kecamatan Bambel, Desa Kute Batu di Kecamatan Lawe Alas, dan lain-lain,
  9. MeRge Pase. Merga ini kecil diyakini berasal dari wilayah Pasai di Aceh Utara, seperti namanya. Menurut Joustra, ada sub marga dengan nama yang sama di Tanah Karo, yang telah punah (1926:197,346; Kreemer 1923:302). Tumbuhan yang dilarang untuk marga ini adalah jelatang. Pada tahun 1988, kurang dari dua puluh keluarga marga ini, dan mereka hanya hidup di desa Kute mbaru di Kecamatan Lawe Bulan,
  10. MeRge Pelis. marga ini diyakini berasal dari Tanah Karo, dan tidak memiliki makanan yang dilarang atau tanaman. Menurut cerita di masyarakat, namun, kepala wilayah marga ini adalah Imem Bale, yang tidak datang dari kalangan Batak Karo tapi datang dari kalangan Melayu (lihat Akifumi Iwabuchi, 1990:13). Para anggota marga ini tersebar di antara desa Lembah Alas di Kecamatan Badar, Desa Tenembak Lang-lang dan Desa Tualang di Kecamatan Deleng Pokisen, Desa Terutung Pelarikan di Kecamatan Lawe Bulan, dan desa Kisam di Kecamatan Lawe Bulan,
  11. MeRge Pinim. marga ini memiliki banyak anggota, dan terdiri dari berbagai kelompok etnis yang bermigrasi ke Tanah Alas secara terpisah. Marga ini diyakini berasal dari Tanah Karo, di Karo ada sub marga nama yang sama, yaitu pinei atau Pinem, ditemukan (Joustra 1926:197,346, Kreemer 1923:302, 1975:74 Singarimbun, 1932:535 ypes), sebahagian meyakini marga ini berasal dari wilayah Kluet di Aceh selatan. Sebuah marga dari nama yang sama ditemukan di Tanah Dairi (ypes 1932:553). Benda yang dilarang bervariasi sesuai dengan masing-masing kelompok, marga Pinim yang tinggal di desa Terutung Payung di Kecamatan Bambel adalah kriket semak bernama belalang kabu (Mecopoda eloneata) dan jelatang, dan marga Pinim yang tinggal di desa Muara Baru di Kecamatan Lawe Alas kerbau putih-merah, dan marga Pinim tinggal di dusun Kute Buluh di Kecamatan Lawe Bulan tunas bambu manis, sementara marga Pinim tinggal di desa Batu Mbulan di kecamatan Babussalam yang sama tidak punya makanan dilarang atau tanaman,
  12. MeRge Ramin. Marga ini diyakini berasal dari wilayah Pasai Aceh utara. Sebuah marga dengan nama yang sama ditemukan di daerah Batak Dairi (ypes 1932:553). Makanan dilarang adalah belut shortfin bernama ikan dundung (Anguilla australis) (lih. Kreeier 1923:545). Para anggota marga ini tinggal terutama di desa-desa Jongar di Kecamatan Ketambe, Natam, di Kecamatan Badar dan Rambung Tel(e)dak di Kecamatan Darul Hasanah, dan desa Bambel dan dusun Lawe Kihing di Kecamatan Bambel,
  13. Merge Ramud. marga ini diyakini berasal dari Singkil. Kerbau putih-merah, belut shortfin, dan merpati tutul adalah benda yang dilarang untuk marga ini. Para anggota marga ini tersebar di antara desa Kute mbaru di Kecamatan Lawe Bulan dan Pulo Nas di Kecamatan Babussalam, Desa Bambel di Kecamatan Bambel dan Alur Buluh di Kecamatan Bukit Tusam, desa Ngkeran di Kecamatan Lawe Alas, dan lain-lain,
  14. Merge Sambo. Menurut informan, marga ini yang berasal dari Singkil adalah terbaru dari semua marga di Tanah Alas. Pada 1901-2, namun, marga ini sudah ada di desa Batu Mbulan (Snouck Hurgronje 1901-2b: 3). Sebuah marga dengan nama yang sama ditemukan di daerah Batak Dairi (ypes 1932:536,553) serta daerah Singkil (ypes 1907:629). Makanan dilarang adalah merpati belang. Para anggota marga ini tersebar, di utama, di antara desa Pulo Latong dan Kutacane Lama, dan desa Kute Galuh di Kecamatan Babussalam,
  15. MeRge Sekedang. Ini adalah marga yang terbesar kedua dari semua marga di tanah Alas. Jika anggota marga ini dan orang-orang dari marga Selian digabungkan, jumlahnya diperkirakan lebih dari setengah penduduk Alas seluruh. Marga ini diyakini berasal dari desa Gumpang di Gayo Luos atas undangan Raje Cik di Desa Batu Mbulan (lihat Akifumi Iwabuchi, 1990:13). Menurut Kreemer, marga ini memiliki asal yang sama seperti halnya marga Penôsan di Gayo Luo dan marga Ginting di Tanah Karo (1920:102; 1923:302). Makanan dilarang adalah lemon. marga ini ditemukan di desa Kute Rih di Kecamatan Babussalam, Desa Bambel, Desa Lawe Kihing dan Terutung Seprei di Kecamatan Bambel, Terutung Megara, dan Lawe Sumur di Kecamatan Lawe Sumur, dan lain-lain. Juga ada banyak juga marga Sekedang di desa Semadam di kecamatan Semadam dan Desa Bambel Baru di Bambel Kabupaten, yang didirikan oleh penggabungan Sekedang migran terutama dari desa Bambel setelah Perang Dunia Kedua,
  16. MeRge Sinage. Marga ini diyakini berasal dari kalangan orang Minangkabau, tetapi marga dengan nama yang sama ditemukan di daerah Batak Toba: Si Naga atau Sinaga (Joustra 1926:204,346, Vergouwen 1933:7, 1964:6; ypes 1932:536-8), yang Batak Simalungun: Sinaga (Joustra 1926:199; Tideman 1922:90-1), dan Batak Dairi: Sinaga (ypes 1932:549). Makanan dilarang adalah kerbau putih-merah (lihat Kreemer 1922:506). Para anggota marga ini tinggal terutama di desa-desa Muara Lawe Bulan, Pulo Nas, di Kecamatan Babussalam, dan Penampaan, dan Desa Kandang Belang di Kecamatan Lawe Bulan dan desa Pulo Sepang di Kecamatan Lawe Alas,
  17. MeRge Sugihen. Marga ini adalah salah satu marga terkecil, dan hal ini hampir punah saat ini. marga ini diyakini telah datang dari Singkil dari Tanah Karo, ada sub marga dengan nama yang sama (Joustra 1926:197; Singarimbun 1975:74). Merpati berbintik adalah makanan dilarang. Awalnya, marga ini hanya ditemukan di desa Batu Mbulan di Kecamatan Babussalam, namun pada tahun 1988 hanya ada lima keluarga marga Sugihen, hidup dalam kandang di Desa Tanah Kerah di Kecamatan Badar, Desa Kute Galuh di Kecamatan Babussalam, dan desa Kisam di Kecamatan Lawe Sumur,
  18. MeRge Sepayung. Asal dari marga kecil ini diyakini dari Singkil. Sebuah marga dengan nama yang sama ditemukan di daerah Batak Karo: Sinoebajang atau Sinupayung (Joustra 1926:197,346, Kreemer 1923:302; Singarimbun 1975:74) dan Batak Dairi: Sipajoeng (ypes 1932:535). Tanaman putri malu adalah barang dilarang untuk marga ini. Hampir dua puluh menggabungkan keluarga Sepayung hidup dalam suatu desa dari Muara Baru di Kecamatan Lawe Alas, semua yang bermigrasi dari desa Lawe Kongkir selama masa kolonial,
  19. MeRge TeRigan. Beberapa anggota marga ini diyakini berasal dari Tanah Karo. Ada marga dengan nama yang sama di Tanah Karo: Tarigan (Joustra 1926:197,346, Kreemer 1923:302, 1975:74 Singarimbun, 1932:535 ypes). Namun, beberapa anggota marga ini juga diduga berasal dari Tanah Dairi atau Tanah Gayo. Benda yang dilarang adalah kerbau putih-merah (lihat Kreemer 1922:506), belut shortfin, dan jelatang. Marga ini ditemukan terutama di desa-desa Kute Lingga di Kecamatan Bukit Tusam dan Pinding di Kecamatan Bambel dan desa Kute mbaru di Kecamatan Lawe Bulan.

Comments

  1. postingan menarik !
    boleh izin share ke blog saya ?

    planetbatak.blogspot.com

    thanks salam kenal

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Kamus Bahasa Alas-Indonesia