PENYELEWENGAN IDEALISME KAMPUS (DEMOKRASI KAMPUS)


Dewasa ini kebebasan berpendapat telah menjadi icon sebenarnya dari demokrasi. Demokrasi yang selama ini diperjuangkan oleh aktifis kampus masa lalu rasanya telah hilang tujuan dan visi misinya. Demokrasi yang digembor-gemborkan anak muda kampus yang terlihat selama ini hanyalah omong kosong belaka.
            Pembelaan kaum miskin kota, mengangkat petani desa, ocehan-ocehan kosong dan setumpuk wacana diskusi lain yang membosankan merupakan agenda tahunan seorang aktifis kampus. Betapa tidak, yang semama ini dilakukan hanyalah itu-itu saja. Setiap generasi muda kampus tidak ada perbaikan program kerja, mungkin itu yang selama ini dikerjakan, aktifis kampus yang berjuang tidak atas dasar perjuangan kaum lemah. Tetapi hanya sebatas program kerja. Isu yang dulu sudah mati-matian deperdebatkan oleh alumni, sekarang dibahsas lagi oleh generasi yang sekarang, dan ironisnya itu akan terus berulang dan terus berulang seakan sudah diwariskan. Apakah memang sudah tidak ada yang benar-benar bisa dipercaya omongannya. Ketika, aktifis muda kita di beri jabatan yang menurutnya sekarang tidak ideal. Apa yang akan pertama kali mereka lakukan?
            Saya kira akan sama saja program kerja pertama yang akan dilakukan oleh pemuda kita. “memperkaya diri” terlebih dulu. Dan ocehan yang selama ini di gembor-gemborkan semasa masih menjadi aktifis dulu hilang bersama kotoran yang mereka keluarkan waktu buang hajad.
            Kurang lebih seperti itu. Kalau kita berbicara masalah budaya yang melatar belakanginya. Jawabanya mungkin kemiskinan pelakunya, dalam benak mereka sewaktu masih menjadi aktifis kampus “apa yang harus saya pertahankan, toh saya sekarang tidak punya apa yang harus di pertahankan, kenapa saya tidak melakukan sesuatu yang dibutuhkan nergri ini”.
            Setelah kaya atau setelah aktifis kita menduduki jabatan penting. jawaban yang muncul akan berbeda “kenapa saya harus memikirkan mereka, saya dulu bejuang dengan keringat sendiri. Kalau mau seperti saya, ya cobalah meniru apa yang saya lakukan, dan saya tidak mau kembali menjadi miskin karena hal seperti itu”.
            Ironis dan konyol memang, tapi inilah yang sedang terjadi sekarang. Seperti yang sudah saya bilang, Idealisme kampus seakan sudah hilang ruhnya. Yang dulunya menjadi pembelaan kaum lemah yang ditindas penguasa, yang dulunya mati-matian menentang rezim penguasa bobrok, yang dulunya harus menerima perlakuan yang menyakitkan karena telah menentang penguasa. Sekarang, hanyalah kemunafikan mahasiswa yang mengatasnamakan kepedulian terhadap kaum tertindas. Apapun yang dilakukan ujung-ujungnya adalah uang yang berbicara, “lumyan dana hasil demo bisa nambah uang jajan”.
            Tidak ada perbedaan mahasiswa dan pejabatnya,”lumayan hasil korupsi bisa nambah balanja anak istri”. Maaf, ternyata masih ada perbedaan. Mahasiswa masih miskin dan pejabatnya sudah kaya.
            Sebenarnya kapan kekonyolan program kerja ini akan berakhir, toh selama ini para aktifis kita yang menduduki kursi penting di negeri ini tidak ada yang menjabat dengan benar. Banyak yang dari mereka memakan barang yang sebenarnya bukan hak mereka. Dan sekarang hal tersebut sudah terbukti, banyak petinggi Negara kita tertangkap oleh KPK (komisi pemberantasan korupsi) dan itu membuktikan bahwa setelah penjajah jepang menyerah, lalu negeri ini merdeka. Ternyata negara ini belum benar-benar merdeka, negara ini masih dijajah oleh bangsa sendiri.

Comments

Popular posts from this blog

Kamus Bahasa Alas-Indonesia

Marga-marga yang ada di Tanoh Alas Aceh Tenggara