Skip to main content

Perbendaharaan Bahasa Alas



Bahasa 
Alas merupakan bahasa yang digunakan masyarakat di Tanah Alas (Aceh Tenggara). Bahasa ini bertalian erat dengan Bahasa Kluet (Aceh Selatan), Bahasa Julu di Singkil (Aceh Singkil), Bahasa Pakpak, dan Bahasa Karo di Sumatera Utara.
Bahasa Alas mempunyai tiga dialek yaitu dialek Hulu dipakai di Kecama­tan Badar, dialek Hilir di Kecamatan Bambel, dan dialek Tengah yang digunakan masyarakat di Kecamatan Babussalam dan Lawe Alas. Perbe­daan dari ketiga dialek ini hanya sedikit sekali. Bila ditinjau dari segi intonasi, pemakaian bahasa Alas di Kecamatan Badar lebih halus dan terkesan lembut, sedang di daerah Kecamatan Babussalam, Lawe Sigala-gala, sedikit mengesankan lemah lembut. Selanjutnya, di Kecamatan Bambel lebih keras/kasar.
Dalam bahasa Alas juga ditemukan tingkat bahasa, meskipun hanya ditemukan pada beberapa kata. Hal itu dapat dilihat dari tabel berikut ini.
tuhoe 9 mahe tabel
Pemakaian kata-kata di atas dibe­dakan oleh situasi atau lingkungan pemakai. Bahasa halus dipakai untuk upacara-upacara adat resmi atau ketika berbicara dengan orang yang lebih tua atau orang yang dihormati. Bahasa sedang biasa dipakai dalam upacara dengan orang yang setaraf atau tingkatannya lebih rendah atau terkadang dipakai juga kepada orang-orang tertentu yang sedang dimarahi atau dibenci.
Kekayaan dialek ini mengesankan bahasa Alas memiliki banyak pem­bedaharaan bahasa yang sering dipakai oleh masyarakat di Tanoh Alas. Dalam tulisan ini, pembahasan terhadap bahasa Alas dititikberatkan pada makna afiksasi. Dalam perben­daharaan bahasa Alas belum ada yang secara khusuh menulis ten­tang makna kata yang timbul akibat pelekatan afiks.
Istilah afiks sudah sering diperbin­cangkan para linguis. Banyak para ahli bahasa mengemukakan arti afiks. Salah satu arti afiks disebutkan, “Satuan gramatikal terikat yang di dalam suatu kata merupakan unsur yang bukan kata dan bukan pokok kata, yang memiliki kesanggupan melekat pada satuan-satuan lain untuk membentuk kata atau pokok kata baru” (Keraf, 1987:55). Selan­jutnya, dikenal pula istilah afiksasi yakni proses pelekatan afiks pada suatu kata dasar atau kata kompleks. Makna afiksasi adalah makna yang timbul akibat pelekatan afiks pada suatu kata. Seperti bahasa di dunia pada umumnya, bahasa Alas juga memiliki lima jenis afiks.
  1. Prefiks yaitu afiks yang mempu­nyai kemampuan melekat pada awal kata. Dalam bahasa Alas ada lima jenis prefiks yaitu: N-, te-, pe-, me-, ni-.
  2. Sufiks yakni afiks yang mempu­nyai kemampuan melekat pada akhir kata. Dalam bahasa Alas ada tiga sufiks yaitu: -ken, -en.
  3. Infiks yaitu afiks yang disisipkan dalam suatu kata. Dalam bahasa Alas ada dan sufiks yaitu: -en-, -em.
  4. Konfik yaitu dua afiks atau lebih yang secara bersama-sama melekat pada suatu kata. Dalam bahasa Alas ada dua konfiks yaitu: pe-en dan se-en.
  5. Afiks gabung yaitu dua afiks atau lebih yang secara berturut-turut melekat pada suatu kata. Dalam bahasa Alas ada tigabelas afiks gabung yaitu: N+i, N+ken, ni+pe, ni+pe+i, ni+pe+ken, ni+ken, ni+i, pe+i, pe+ken, te+i, te+pe-, te+pe+ken, me+ken.
Dari kelima penggunaan afiks dalam bahasa Alas, banyak sekali makna yang timbul akibat pelekatan afiks tersebut. Di antara makna yang mengalami perubahan akibat afiksasi adalah sebagai berikut.
  1. Melakukan pekerjaan apa yang tersebut pada bentuk dasar, N + tangko ‘curi’ – nangko ‘mencuri’.
  2. Tidak sengaja melakukan apa yang tersebut pada bentuk dasar.te- + tepak ‘sepak’ -tetepak ‘tidak sengaja disepak’.
  3. Orang yang melakukan apa yang tersebut pada bentuk dasar. pe- + tangko ‘curi’ – penangko ‘orang yang mencuri’.
  4. Memanggil apa yang tersebut pada bentuk dasar.pe- + ame ‘ibu’ – peame ‘memanggil ibu’.
  5. Membuat jadi seperti apa yang tersebut pada bentuk dasar.pe- + belang ‘lebar’ – pebe­lang ‘membuat jadi lebar’.
  6. Menyatakan keadaan apa yang tersebut pada bentuk dasar.me- + cuping ‘telinga – mecu­ping ‘bertelinga’.
  7. Menyatakan melakukan melaku­ kan pekerjaan secara berulang-ulang.-i + iup ‘tiup’ – iupi ‘tiupi’.
  8. Menyatakan hal apa yang terse­ but pada bentuk dasar.-en + jarum ‘jarum’ – jarumen ‘hal yang dijahit’.
  9. Mengeluarkan apa yang tersebut pada bentuk dasar.-em- + kesah ‘nafas’ – kume­sah ‘mengeluarkan nafas’.
  10. Melakukan pekerjaan pada waktu yang akan datang.-en- + pangan ‘makan’ – penenganan ‘makan pada waktu yang akan datang’.
  11. Menyatakan hal atau tempat pekerjaan itu dilakukanpe-en + sungkun ‘tanya’ – pe­nungkunen ‘tempat bertanya’.
  12. Menyatakan saling apa yang tersebut pada bentuk dasar.se-en + salam ‘salam’ – sesala­men ‘saling bersalaman’.
  13. Menyatakan tidak sama dengan apa yang tersebut pada bentuk dasar.se-en + bereng ‘hitam’ – se­berengen ‘tidak sama hitam­nya’.
  14. Menyatakan memakai atau mem­ pergunakan apa yang tersebut pada bentuk dasar.N- + baju ‘baju’ + -ken – mba­juken ‘memakai baju’.
  15. Membubuhkan apa yang terse­ but pada bentuk dasar.te+pe + dalan ‘jalan’ + ken – tepedalanken ‘dapat dijalankan’.
  16. Menyuruh membuat jadi seperti apa yang tersebut pada bentuk dasar.te- + telu ‘tiga+i – tetelui ‘dapat dilakukan dengan tujuh orang’.
  17. Menyatakan dapat melakukan apa yang tersebut pada bentuk dasar.te+pe + cut ‘kecil’ +ken – te­pecutken ‘dapat dikecilkan’.
  18. Menyatakan dibuat jadi seperti apa yang tersebut pada bentuk dasar.pe + dauh ‘jauh’ +i – pedahi ‘buat menjadi jauh’.
Beberapa hal yang telah diuraikan di atas nantinya dapat meningkatkan aktivitas penulisan, terutama penu­lisan dalam bahasa Alas sehingga tatabahasa dan perbendaharaan kata bahasa Alas dapat terus terjaga dan terlestarikan di Tanoh Alas Bumi Sepakat Segenep.
Oleh Zulfikar Arma
Sumber : http://www.jkma-aceh.org/haba/?p=1456#more-145
6

Comments

Popular posts from this blog

Kamus Bahasa Alas-Indonesia

Marga-marga yang ada di Tanoh Alas Aceh Tenggara